Opini
Beranda » Blog » Janji Perdagangan Etis di Balik Cokelat: Keberhasilan dan Keterbatasan Tony’s Open Chain

Janji Perdagangan Etis di Balik Cokelat: Keberhasilan dan Keterbatasan Tony’s Open Chain

WhatsApp Image 2026-06-29 at 15.35.21
Ilustrasi AI

Penulis: Caterine Angel Pasaribu, Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional, Universitas Udayana.

Indonesia Vox, Opini – Salah satu contoh yang sering disebut sebagai praktik baik perdagangan etis adalah Tony’s Open Chain, model rantai pasok yang dikembangkan oleh perusahaan cokelat Belanda, Tony’s Chocolonely. Model ini menarik karena tidak hanya menawarkan slogan cokelat bebas eksploitasi, tetapi juga menerapkannya dalam mekanisme yang dapat diukur dan ditiru perusahaan lain. Meski demikian, keberhasilan model ini tetap perlu dilihat secara kritis karena masih beroperasi dalam struktur perdagangan kakao global yang tidak seimbang.

Untuk memahami kasus ini, dua perspektif dapat digunakan. Pertama adalah konstruktivisme yang menjelaskan bahwa perubahan dalam politik internasional sering kali dimulai dari aktor yang memperkenalkan norma baru. Norma tersebut kemudian menyebar dan perlahan diterima sebagai standar yang wajar (Finnemore & Sikkink, 1998). Perspektif ini membantu menjelaskan bagaimana sebuah perusahaan seperti Tony’s Chocolonely dapat memengaruhi cara industri cokelat memandang isu eksploitasi dalam rantai pasok.

Perspektif kedua adalah teori dependensi yang melihat adanya hubungan tidak seimbang antara negara atau kelompok yang berada di pusat ekonomi global dan pihak yang berada di pinggiran (Dos Santos, 1970). Dalam industri kakao, negara produsen sering kali hanya menjadi pemasok bahan mentah, sementara keuntungan terbesar dinikmati perusahaan yang menguasai pengolahan, teknologi, dan distribusi. Kekuatan untuk menentukan harga kakao lebih banyak berada di tangan pedagang besar, perusahaan pengolah, dan pasar berjangka dibandingkan petani maupun negara produsen (Staritz et al., 2023).

Tony’s Chocolonely sendiri lahir dari kritik terhadap praktik eksploitasi dalam industri cokelat. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2005 oleh jurnalis Belanda, Teun van de Keuken, setelah ia mengungkap adanya praktik perbudakan di perkebunan kakao Afrika Barat. Berbeda dengan banyak perusahaan yang hanya mengampanyekan keberlanjutan, Tony’s mencoba membangun sistem yang lebih konkret melalui lima prinsip pengadaan (5 Sourcing Principles).

Kenaikan Harga BBM Meresahkan

Prinsip pertama adalah ketertelusuran penuh rantai pasok. Melalui sistem digital bernama Bean Tracker, perusahaan mengklaim mampu melacak asal-usul biji kakao hingga tingkat petani. Prinsip kedua adalah pembayaran harga yang lebih tinggi melalui Living Income Reference Price (LIRP), yaitu harga yang dirancang agar petani memperoleh penghasilan yang layak. Selain itu, perusahaan juga membangun kemitraan jangka panjang dengan koperasi, memberikan pelatihan untuk meningkatkan produktivitas, serta menjalankan program pemantauan dan penanganan pekerja anak (Tony’s Chocolonely, 2025).

Hasilnya cukup signifikan. Dalam Annual FAIR Report 2024/2025, lebih dari 32.000 petani menerima manfaat dari model tersebut. Selain itu, 99,9 persen pasokan kakao mereka telah terverifikasi bebas dari deforestasi. Pada beberapa koperasi mitra utama, jumlah petani yang berhasil mencapai tingkat penghidupan layak meningkat secara signifikan dibandingkan musim sebelumnya (Tony’s Chocolonely, 2025).

Yang membuat Tony’s berbeda bukan hanya praktik internalnya, tetapi juga keputusannya membuka model tersebut kepada perusahaan lain melalui Tony’s Open Chain. Sejumlah merek, seperti Ben & Jerry’s, mulai menggunakan prinsip yang sama dalam pengadaan kakao mereka. Dari sudut pandang konstruktivisme, langkah ini menunjukkan peran Tony’s sebagai norm entrepreneur yang berupaya menyebarkan norma baru mengenai perdagangan kakao yang lebih adil (Finnemore & Sikkink, 1998).

Dampaknya bahkan terlihat pada tingkat yang lebih luas. Tekanan publik terkait pekerja anak dan eksploitasi mendorong organisasi seperti World Cocoa Foundation serta berbagai perusahaan besar untuk memperkuat komitmen mereka terhadap keberlanjutan. Uni Eropa juga mulai menerapkan regulasi yang lebih ketat terhadap produk yang berkaitan dengan deforestasi dan kerja paksa. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan mengenai perdagangan kakao yang adil mulai memperoleh tempat dalam kebijakan internasional.

Namun demikian, keberhasilan tersebut tidak berarti seluruh persoalan telah selesai. Dari perspektif teori dependensi, perubahan yang terjadi masih terbatas pada sebagian kecil rantai pasok. Meskipun petani yang tergabung dalam program Tony’s memperoleh manfaat yang lebih baik, jutaan petani lain di luar sistem tersebut masih menghadapi pendapatan rendah dan ketidakpastian harga. Kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok yang paling berpotensi dirugikan adalah petani kakao yang tidak terlibat dalam skema perdagangan etis karena mereka tetap menghadapi harga yang tidak stabil dan pendapatan yang rendah.

Motto Hidup: Cara Sederhana Menemukan Arah dan Makna dalam Hidup

Selain itu, Tony’s sendiri masih bergantung pada perusahaan pengolah besar seperti Barry Callebaut untuk memproses kakao dalam skala besar. Artinya, perusahaan tetap harus beroperasi dalam infrastruktur industri yang selama ini menjadi bagian dari persoalan. Ketimpangan kekuasaan dalam rantai nilai kakao global juga belum berubah secara mendasar. Harga kakao tetap ditentukan oleh pasar berjangka dan perusahaan besar yang menguasai perdagangan internasional (Staritz et al., 2023).

Upaya negara produsen seperti Pantai Gading dan Ghana untuk meningkatkan pendapatan petani melalui kebijakan Living Income Differential (LID) memang menunjukkan hasil tertentu. Namun, dampaknya masih terbatas karena perusahaan besar memiliki kemampuan untuk menyesuaikan strategi mereka. Meskipun harga kakao meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar petani masih belum mencapai tingkat penghidupan yang layak (Fairtrade International, 2025). Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya rendahnya harga, melainkan struktur distribusi keuntungan yang tidak seimbang dalam rantai nilai global.

Karena itu, Tony’s Open Chain lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa perdagangan yang lebih adil memang memungkinkan untuk diwujudkan, bukan sebagai solusi tunggal bagi seluruh persoalan industri kakao. Model ini berhasil menunjukkan bahwa transparansi, harga yang lebih adil, dan perlindungan terhadap petani dapat diterapkan dalam praktik bisnis. Namun, perubahan yang lebih luas tetap membutuhkan regulasi yang melindungi petani, mekanisme penetapan harga yang lebih adil, serta tekanan dari konsumen dan pasar. Dalam konteks ini, pemerintah negara produsen dan organisasi internasional perlu memastikan bahwa manfaat perdagangan etis dapat menjangkau lebih banyak petani kakao, bukan hanya mereka yang terlibat dalam skema tertentu.

Pada akhirnya, pengalaman Tony’s Chocolonely menunjukkan bahwa perdagangan etis dapat mendorong perubahan dalam industri global. Meski belum mampu menghapus ketimpangan struktural sepenuhnya, praktik ini membuktikan bahwa perdagangan internasional tidak selalu identik dengan eksploitasi. Melalui transparansi rantai pasok, pembayaran harga yang lebih adil, serta upaya perlindungan terhadap petani, Tony’s berhasil menunjukkan bahwa model perdagangan yang lebih bertanggung jawab dapat diterapkan dalam praktik bisnis. Namun, keberhasilan tersebut masih terbatas pada sebagian kecil rantai nilai kakao global. Tantangan berikutnya adalah memperluas model tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak petani kakao yang masih berada pada posisi paling lemah dalam rantai nilai global. Tanpa perubahan yang lebih luas pada mekanisme perdagangan global, keberhasilan seperti Tony’s berisiko tetap menjadi pengecualian, bukan standar industri.

Daftar Pustaka

Dos Santos, T. (1970). The Structure of Dependence. The American Economic Review, 60(2), 231–236.

Fairtrade International. (2025). Cocoa Household Income Study 2024/2025 (Analisis oleh Impact Institute). https://www.fairtrade.net/content/dam/fairtrade/fairtrade-international/library/2025/cocoa-household-income/Fairtrade-cocoa-household-income-study-2025-at-a-glance.pdf

Finnemore, M., & Sikkink, K. (1998). International Norm Dynamics and Political Change. International Organization, 52(4), 887–917.

International Cocoa Organization (ICCO). (2026). Quarterly Bulletin of Cocoa Statistics, Vol. LII No. 1, Cocoa Year 2025/26. Abidjan. https://www.icco.org/february-2026-quarterly-bulletin-of-cocoa-statistics/

NORC at the University of Chicago. (2020). Assessing Progress in Reducing Child Labor in Cocoa Production in Cocoa Growing Areas of Côte d’Ivoire and Ghana. Dibiayai oleh U.S. Department of Labor. https://www.norc.org/research/projects/assessing-child-labor-in-west-africa-cocoa-farming.html

Staritz, C., Tröster, B., Grumiller, J., & Maile, F. (2023). Price-Setting Power in Global Value Chains: The Cases of Price Stabilisation in the Cocoa Sectors in Côte d’Ivoire and Ghana. The European Journal of Development Research, 35(4), 840–868. https://doi.org/10.1057/s41287-022-00543-z

Tony’s Chocolonely. (2025). Tony’s Open Chain Annual FAIR Report 2024/2025. https://nl.tonyschocolonely.com/en/pages/annual-fair-report-2024-2025

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan