Opini
Beranda » Blog » Kenaikan Harga BBM Meresahkan

Kenaikan Harga BBM Meresahkan

Erika Fajar Subhekti
Erika Fajar Subhekti, Mahasiswa S3 PSDM, Universitas Airlangga

Indonesia Vox, Opini – Kenaikan harga BBM sering dijelaskan sebagai kebutuhan negara untuk menjaga kondisi keuangan agar tetap sehat. Banyak ekonom berpendapat bahwa subsidi energi yang terlalu besar akan membebani anggaran dan mengurangi kesempatan untuk membiayai sektor penting seperti pendidikan dan kesehatan.

Dari sudut pandang ini, menaikkan harga BBM dianggap sebagai langkah yang masuk akal. Tentu ini biasanya didasarkan pada logika efisiensi anggaran dan keberlanjutan fiskal dalam jangka panjang. Pendekatan ini tidak berdiri sendiri, karena selalu berkaitan dengan kondisi sosial yang kompleks. Namun, cara pandang seperti ini cenderung melihat persoalan dari angka-angka besar saja dan kurang memperhatikan dampaknya pada kehidupan nyata masyarakat yang ada.

Dalam praktiknya, kenaikan harga BBM langsung memicu kenaikan biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok yang dirasakan sehari-hari oleh masyarakat. Masalah utamanya bukan sekadar apakah anggaran negara menjadi lebih stabil, tetapi siapa yang paling menanggung beban dari keputusan tersebut. Negara mungkin lebih ringan bebannya, tetapi belum tentu masyarakat merasakan keadilan yang sama dalam menanggung konsekuensinya.

Di titik inilah muncul ketegangan antara rasionalitas ekonomi dan realitas sosial yang tidak selalu sejalan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan apakah kebijakan tersebut sudah mempertimbangkan kemampuan kelompok rentan yang paling terdampak?. Jika tidak diimbangi dengan perlindungan sosial yang memadai, kebijakan ini berpotensi memperlebar ketimpangan yang sudah ada.

Dari pemikiran tersebut, muncul anggapan bahwa harga BBM yang lebih tinggi akan membuat penggunaan energi menjadi lebih hemat dan efisien. Cara berpikir ini terlihat masuk akal jika dilihat dari teori ekonomi yang menekankan hubungan antara harga dan permintaan.

Motto Hidup: Cara Sederhana Menemukan Arah dan Makna dalam Hidup

Secara teoritis, kenaikan harga akan menekan konsumsi dan mendorong perilaku yang lebih rasional. Bagi pekerja harian, pengemudi ojek, atau pedagang kecil, BBM bukan pilihan tetapi kebutuhan utama untuk tetap bekerja dan bertahan hidup.

Dalam perspektif mikroekonomi, kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap BBM sulit dikurangi dalam jangka pendek, sehingga ketika harga naik konsumsi tidak banyak berubah, tetapi beban pengeluaran masyarakat justru meningkat dan pada akhirnya menekan kesejahteraan mereka (Burke & Nishitateno, 2013).

Dalam kondisi seperti ini, kenaikan harga lebih cepat terasa sebagai beban tambahan, karena biaya transportasi dan kebutuhan pokok ikut naik. Dampaknya tidak berhenti di situ, karena kenaikan ini juga bisa menekan daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Tekanan ini kemudian menciptakan efek yang memperlemah stabilitas ekonomi rumah tangga. Jadi, ide tentang efisiensi ini tidak sepenuhnya berjalan di lapangan karena kemampuan setiap orang untuk beradaptasi sangat berbeda. Akibatnya, kebijakan yang sama bisa dirasakan sangat berat oleh sebagian orang, tetapi tidak terlalu berpengaruh bagi kelompok yang lebih mampu.

Kemudian ada juga pandangan yang melihat kenaikan BBM sebagai peluang untuk mendorong peralihan ke energi yang lebih ramah lingkungan. Harga yang mahal dianggap bisa “memaksa” masyarakat dan industri untuk mulai beralih ke energi alternatif.

Sekilas ini terdengar sebagai langkah yang maju, apalagi jika dikaitkan dengan isu perubahan iklim yang semakin mendesak. Logika ini berangkat dari asumsi bahwa tekanan ekonomi dapat mempercepat perubahan perilaku.

Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu, perubahan ke energi baru membutuhkan dukungan nyata, seperti transportasi umum yang layak, akses teknologi, dan insentif yang jelas. Tanpa dukungan tersebut, proses peralihan akan berjalan sangat lambat dan tidak merata.

Kalau semua itu belum tersedia, maka masyarakat tidak benar-benar punya pilihan selain tetap menggunakan BBM yang semakin mahal. Kondisi ini membuat masyarakat berada dalam posisi terpaksa, bukan karena siap berubah.

Dengan kata lain, perubahan yang terjadi bukan hasil kesiapan, tetapi akibat keterpaksaan struktural. Akibatnya, kebijakan ini lebih terasa sebagai tekanan daripada sebagai dorongan perubahan dan alih-alih mendorong perubahan perilaku, kebijakan ini justru bisa menimbulkan ketidakpuasan dan resistensi dari masyarakat.

Situasi ini akhirnya mengarah pada pertanyaan yang lebih penting, yaitu bukan sekadar apakah BBM perlu naik, tetapi bagaimana kebijakan itu dijalankan. Pertanyaan ini penting karena dampak kebijakan tidak hanya ditentukan oleh keputusan, tetapi juga oleh cara pelaksanaannya. Banyak yang berpendapat bahwa masyarakat bisa menerima kenaikan harga jika prosesnya terbuka, jelas, dan disertai bantuan yang tepat sasaran.

Perspektif ini menekankan pentingnya legitimasi dalam kebijakan publik. Artinya, masyarakat ingin merasa dilibatkan dan dipahami, bukan sekadar diberi keputusan yang sudah ada, memang benar cara penyampaian dan transparansi punya pengaruh besar, namun itu saja tidak cukup, dalam banyak kasus komunikasi yang baik tidak selalu mampu mengurangi beban nyata yang dirasakan masyarakat. Kebijakan yang dijelaskan dengan baik tetap bisa dianggap tidak adil jika beban utamanya jatuh pada kelompok yang paling lemah.

Hal ini menunjukkan bahwa keadilan tidak hanya soal prosedur, tetapi juga soal siapa yang paling terdampak. Dengan begitu, aspek pemerataan hasil menjadi sama pentingnya dengan aspek proses pelaksanaannya. Jadi, selain proses yang baik, hasil akhirnya juga harus benar-benar terasa adil, dan jika tidak, kebijakan berisiko kehilangan kepercayaan publik meskipun sudah disampaikan dengan cara yang baik.

Jika dilihat secara keseluruhan, setiap alasan yang mendukung kenaikan BBM sebenarnya punya kelemahan masing-masing. Tidak ada satu pendekatan yang benar-benar bisa menjawab semua dampak yang muncul sekaligus.

Oleh karena itu, persoalan ini tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar pilihan benar atau salah, pendekatan yang terlalu sederhana justru berpotensi menyesatkan dalam memahami realitas yang kompleks.

Pendekatan yang terlalu hitam putih justru berisiko mengabaikan kompleksitas kondisi di lapangan. Dan yang lebih penting adalah melihat apakah kebijakan tersebut benar-benar mempertimbangkan kondisi keuangan negara, kesiapan perlindungan bagi masyarakat, dan arah perubahan ekonomi ke depan.

Ketiga hal ini perlu berjalan seimbang agar kebijakan tidak hanya kuat di atas kertas, tetapi juga adil dalam pelaksanaannya. Keseimbangan ini menjadi kunci agar kebijakan tidak hanya efisien, tetapi juga berkelanjutan secara sosial. Tanpa keseimbangan ketiga hal ini, kenaikan BBM hanya akan menjadi solusi sementara yang pada akhirnya lebih banyak membebani masyarakat kecil. Jika kondisi ini terus berulang, kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan publik juga bisa ikut menurun.

Referensi :

Burke, P. J., & Nishitateno, S. (2013). Gasoline prices, gasoline consumption, and new-vehicle fuel economy: Evidence for a large sample of countries. Energy Economics36, 363-370.

Penulis : Erika Fajar Subhekti, Mahasiswa S3 PSDM, Universitas Airlangga.

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan