Desa Kwasen — Kapal merupakan salah satu alat transportasi yang memiliki bentuk dan cara kerja yang menarik untuk dipelajari. Meskipun berukuran besar dan sebagian besar menggunakan material yang berat seperti baja, kapal dapat tetap berada di atas permukaan air. Fenomena sederhana tersebut menjadi dasar mahasiswa KKN Reguler II Universitas Diponegoro untuk mengenalkan konsep sains dan dasar Teknik Perkapalan kepada siswa-siswi MI Khasanah Insani, Desa Kwasen.
Melalui program kerja sosial kemasyarakatan “Mengapa Kapal Bisa Mengapung?”, Christina Anastasia Putri Tambunan, mahasiswa Program Studi Teknik Perkapalan Undip, mengajak siswa-siswi untuk memahami alasan kapal dapat mengapung melalui penyampaian materi interaktif dan eksperimen sederhana. Kegiatan ini ditujukan kepada siswa-siswi MI Khasanah Insani, khususnya untuk memberikan pengalaman belajar yang berbeda melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pemilihan topik kapal mengapung berangkat dari keinginan untuk mengenalkan dunia Teknik Perkapalan kepada anak-anak sejak dini. Materi tidak diberikan dalam bentuk teori yang kompleks, tetapi disesuaikan dengan usia peserta melalui gambar, pertanyaan sederhana, diskusi, dan praktik langsung. Dengan cara tersebut, anak-anak diajak untuk tidak hanya mengetahui jawaban, tetapi juga memahami proses di balik sebuah fenomena yang mereka lihat sehari-hari.
Kegiatan diawali dengan pertanyaan sederhana mengenai benda yang dapat mengapung dan tenggelam. Siswa diajak membandingkan sebuah batu kecil dengan kapal besi yang berukuran jauh lebih besar. Pertanyaan “Mengapa batu tenggelam, tetapi kapal besi bisa mengapung?” menjadi pemantik rasa ingin tahu peserta sebelum materi utama diberikan.
Dalam pemaparannya, Christina menjelaskan konsep dasar gaya apung dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Air memberikan dorongan ke atas terhadap benda yang berada di dalamnya sehingga dapat membantu benda tersebut tetap mengapung. Peserta juga dikenalkan pada pengaruh bentuk benda terhadap kemampuannya mengapung. Melalui perbandingan bentuk bola dan bentuk mangkuk, siswa diperlihatkan bahwa benda dengan bahan yang sama dapat memiliki hasil berbeda ketika bentuknya diubah.
Penjelasan kemudian dikaitkan dengan bentuk kapal. Kapal tidak dibuat sebagai benda padat seperti balok besi, melainkan memiliki badan yang berongga dan ruang yang berisi udara. Bentuk tersebut membantu kapal tetap mengapung di atas air. Dengan contoh yang sederhana, siswa diajak memahami bahwa kemampuan kapal untuk mengapung tidak hanya berkaitan dengan material yang digunakan, tetapi juga dengan bentuk dan rancangan kapal.
Setelah mendapatkan materi, siswa-siswi diajak melakukan eksperimen menggunakan aluminium foil, baskom berisi air, dan koin. Setiap peserta atau kelompok membuat kapal kecil dari aluminium foil dengan bentuk yang menyerupai perahu. Kapal kemudian diletakkan di atas air dan diuji dengan memasukkan koin satu per satu sebagai muatan.
Eksperimen dilakukan dengan cara menghitung jumlah koin yang dapat dibawa kapal sebelum akhirnya tenggelam. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat secara langsung hubungan antara bentuk kapal, air, dan muatan. Anak-anak juga dapat membandingkan hasil kapal yang dibuat dengan bentuk berbeda dan melihat bahwa rancangan sederhana dapat memengaruhi kemampuan kapal dalam membawa beban.
Selain memberikan pemahaman mengenai kapal mengapung, kegiatan ini juga mendorong siswa untuk aktif mengamati, mencoba, dan menemukan hasil melalui pengalaman langsung. Metode eksperimen dipilih agar pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui penjelasan, tetapi juga memberikan pengalaman praktis yang lebih mudah diingat oleh anak-anak.
Sebagai mahasiswa Teknik Perkapalan, Christina berharap kegiatan ini dapat menjadi pengenalan awal terhadap bidang perkapalan yang mungkin belum banyak dikenal oleh siswa sekolah dasar. Teknik Perkapalan tidak hanya berkaitan dengan kapal yang berada di laut, tetapi juga mencakup berbagai ilmu mengenai bagaimana sebuah kapal dirancang agar dapat berfungsi dengan baik dan aman. Melalui kegiatan sederhana ini, siswa diperkenalkan bahwa konsep sains dapat ditemukan dalam berbagai hal di sekitar mereka.
Program ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui pengenalan pemanfaatan bahan sederhana dan penggunaan material secara bijak dalam kegiatan eksperimen. Aluminium foil yang digunakan dalam eksperimen dimanfaatkan secara terukur untuk membuat model kapal dan membantu siswa memahami bahwa suatu material dapat digunakan secara kreatif untuk kegiatan pembelajaran.
Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung, terutama ketika mereka mulai membuat kapal dan memasukkan koin satu per satu. Rasa penasaran muncul ketika setiap kapal diuji untuk mengetahui seberapa banyak muatan yang mampu dibawa sebelum tenggelam. Suasana eksperimen juga membuat siswa lebih aktif mengikuti materi dan berani menyampaikan pendapat mengenai bentuk kapal yang mereka buat.
Melalui program “Mengapa Kapal Bisa Mengapung?”, mahasiswa KKN Undip berupaya menghadirkan pembelajaran sains yang sederhana, interaktif, dan menyenangkan bagi siswa-siswi MI Khasanah Insani. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan baru mengenai kapal, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu siswa terhadap sains dan teknologi serta memperkenalkan dunia Teknik Perkapalan sejak dini.
Dari sebuah kapal yang mengapung, siswa belajar bahwa sains dapat ditemukan dalam hal sederhana. Dari sebuah eksperimen, tumbuh rasa ingin tahu untuk terus mencoba dan belajar.
Penulis: Christina Anastasia Putri Tambunan, mahasiswa Program Studi Teknik Perkapalan, Universitas Diponegoro, melaksanakan Program Kerja Sosial Kemasyarakatan KKN Reguler II Undip 2026 “Mengapa Kapal Bisa Mengapung?” di MI Khasanah Insani, Desa Kwasen, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan.


Komentar