Jurnalis : Ardan Levano
Dulu aku selalu ikut travel sharing kalau pergi ke mana-mana. Praktis, tinggal duduk, tidak perlu mikir rute. Kalau ada yang bisa diurus orang lain, kenapa harus repot urus sendiri begitu logikaku waktu itu.
Sampai suatu hari di Lombok, aku duduk di bangku belakang travel sharing menuju Kuta dan melihat ke luar jendela. Di sisi kanan jalan ada bukit kecil yang pemandangannya luar biasa hamparan hijau dengan lautan biru di kejauhan. Aku ketuk bahu teman di sebelah, isyaratkan supaya lihat juga.
Kami berdua menoleh. Saling pandang. Dan dalam waktu tiga detik, bukit itu sudah terlewat.
Sopir travel terus melaju. Tidak ada yang memintanya berhenti. Dan bahkan kalau ada yang minta, jadwal tidak mengizinkan.
Momen kecil itu yang hilang sebelum sempat dinikmati yang akhirnya mengubah cara aku berpikir soal transportasi di Lombok.
Travel Sharing Bukan Salah, Tapi Ada Batasnya
Sebelum lanjut, aku mau adil dulu. Travel sharing bukan pilihan yang buruk. Untuk wisatawan yang memang hanya punya satu tujuan, tidak mau menyetir, atau datang sendiri tanpa rencana banyak bergerak travel sharing bisa sangat masuk akal.
Masalahnya muncul ketika kamu mulai punya lebih dari satu tujuan dalam sehari. Atau ketika itinerary-mu butuh fleksibilitas. Atau ketika kamu tipe yang suka berhenti di tengah jalan karena nemu sesuatu yang menarik.
Di situlah travel sharing mulai menunjukkan batasnya. Dan di situlah sewa mobil mulai terasa seperti keputusan yang seharusnya dibuat sejak awal.
Alasan Pertama: Waktu Keberangkatan Ditentukan Kamu, Bukan Jadwal Orang Lain
Ini yang paling sering jadi keluhan wisatawan yang pernah pakai travel sharing di Lombok.
Travel sharing berangkat berdasarkan jadwal yang sudah ditetapkan atau lebih tepatnya, berdasarkan kapan semua kursi terisi. Kamu yang datang duluan harus menunggu penumpang lain yang belum datang. Dan kalau kamu yang telat, risikonya kendaraan sudah jalan duluan.
Situasi ini sudah beberapa kali aku alami sendiri dan lebih banyak lagi aku dengar dari teman-teman yang pergi ke Lombok. Satu orang telat lima belas menit, semua penumpang lain ikut terlambat masuk ke destinasi pertama, dan efek dominonya terasa sampai akhir hari.
Dengan sewa mobil sendiri, jadwal keberangkatan sepenuhnya di tangan kamu. Mau berangkat jam enam pagi sebelum destinasi ramai? Bisa. Mau santai dulu sarapan sampai jam delapan? Juga bisa. Tidak ada yang menunggu, tidak ada yang ditunggu.
Alasan Kedua: Tidak Ada Rute yang Dipaksakan
Travel sharing di Lombok umumnya punya rute tetap dari titik A ke titik B, dengan mungkin satu atau dua pemberhentian di tengah yang sudah ditentukan. Kalau destinasi yang kamu mau ada di luar rute itu, kamu perlu nego, atau kamu perlu naik kendaraan lain lagi.
Aku pernah dalam situasi di mana aku mau ke Desa Sade setelah dari Kuta Lombok jaraknya tidak jauh, hanya sedikit melenceng dari jalur utama. Tapi sopir travel bilang tidak masuk rute. Aku harus turun di persimpangan dan cari ojek sendiri ke sana.
Dua momen terpisah, dua kendaraan berbeda, dua kali bayar, dan satu setengah jam terbuang untuk sesuatu yang dengan mobil sendiri hanya butuh mampir sebentar.
Dengan sewa mobil Lombok, tidak ada konsep rute yang dipaksakan. Mau belok ke mana, mau masuk ke jalan mana, mau berhenti di mana semua keputusan ada di kamu. Lombok punya terlalu banyak spot menarik yang letaknya tidak selalu di jalur utama untuk dinikmati dengan sistem rute yang kaku.
Alasan Ketiga: Lebih Hemat untuk Kelompok atau Rombongan
Ini yang sering salah dipersepsikan. Banyak yang berpikir travel sharing pasti lebih murah karena bayar per orang. Tapi kalau kamu datang bertiga, berempat, atau lebih perhitungannya berubah drastis.
Bayangkan kamu pergi berlima ke Lombok. Tarif travel sharing per orang untuk satu rute bisa berkisar antara lima puluh hingga seratus ribu tergantung jarak. Untuk tiga rute dalam sehari, satu orang sudah keluar seratus lima puluh hingga tiga ratus ribu. Kali lima orang, totalnya sudah hampir sama atau bahkan melebihi biaya sewa mobil harian yang bisa menanggung kelima orang sekaligus.
Ditambah dengan kenyataan bahwa sewa mobil harian bisa kamu bawa ke mana saja tanpa biaya per perjalanan, efisiensinya jauh lebih terasa untuk kelompok yang berencana mengunjungi banyak tempat.
Waktu aku terakhir ke Lombok dengan empat orang teman, kami hitung-hitungan di hari kedua dan sadar bahwa biaya rental mobil Lombok per hari yang kami bagi berlima ternyata lebih murah dari ongkos travel sharing yang harus kami bayar per rute per orang. Dan itu belum menghitung waktu yang kami hemat karena tidak perlu tunggu-tunggunan.
Alasan Keempat: Bisa Berhenti Kapanpun dan Di Manapun
Ini yang paling sering aku sebut ke siapapun yang tanya kenapa aku selalu sewa mobil sendiri di Lombok.
Lombok itu indah bukan hanya di destinasi-destinasinya. Tapi di antara destinasi-destinasi itu. Jalan yang melintasi persawahan berlapis di Lombok Tengah. Pantai kecil yang tiba-tiba muncul dari balik tikungan di jalur selatan. Warung sate rombong di pinggir jalan yang asapnya tercium dari dalam mobil.
Semua momen itu tidak ada di itinerary. Tidak ada di Google Maps. Tidak ada di konten travel manapun. Tapi justru itu yang paling diingat setelah pulang.
Dan untuk bisa menikmati itu semua, kamu perlu satu hal yang tidak dimiliki travel sharing: kebebasan untuk berhenti.
Dengan mobil sendiri, kamu bisa injak rem kapanpun mau. Turun, lihat-lihat, foto, ngobrol sebentar, lanjut lagi. Tidak ada yang menunggu, tidak ada jadwal yang terancam buyar.
Alasan Kelima: Privasi dan Kenyamanan yang Tidak Bisa Ditawar
Ini sering luput dari pertimbangan tapi sebenarnya sangat menentukan kualitas perjalanan, terutama untuk liburan keluarga atau perjalanan yang sifatnya lebih personal.
Di travel sharing, kamu berbagi kendaraan dengan orang asing. Itu tidak selalu masalah, tapi dalam situasi tertentu saat anak kecil rewel, saat butuh ngobrol sesuatu yang sifatnya privat, atau saat salah satu anggota rombongan mabuk darat dan butuh jendela dibuka penuh berbagi ruang dengan penumpang lain yang tidak kamu kenal bisa jadi kurang nyaman untuk semua pihak.
Dengan kendaraan sewaan yang hanya diisi rombonganmu sendiri, semua itu bukan masalah. Musik bisa disetel sesuai selera. AC bisa diatur sesuai kebutuhan. Dan kalau perlu berhenti mendadak karena ada yang mual di jalan pegunungan menuju Sembalun, tidak perlu merasa tidak enak dengan penumpang lain.
Menemukan Layanan yang Tepat
Semua keunggulan sewa mobil itu tentu saja bergantung pada satu hal: penyedianya bisa dipercaya.
Aku sudah beberapa kali mencoba berbagai layanan di Lombok sebelum akhirnya konsisten dengan satu pilihan. Lepas Kunci Lombok jadi pilihan yang aku percayakan bukan karena tidak ada alternatif lain, tapi karena pengalaman dari awal sampai akhir selalu konsisten informasi yang jelas sebelum transaksi, kendaraan yang kondisinya sesuai yang dijanjikan, dan tidak ada kejutan biaya di akhir penyewaan.
Untuk perjalanan yang kamu rencanakan dengan matang, konsistensi seperti itu nilainya jauh lebih besar dari selisih harga beberapa puluh ribu yang mungkin bisa dapat di tempat lain dengan standar yang jauh lebih tidak bisa diprediksi.
Bukan Soal Gengsi, Tapi Soal Kontrol
Aku mau luruskan satu hal sebelum menutup tulisan ini.
Memilih sewa mobil daripada travel sharing bukan soal ingin kelihatan lebih mandiri atau lebih traveler-savvy dari yang lain. Ini soal kontrol atas waktu, atas rute, atas momen-momen kecil yang tidak bisa direncanakan tapi justru paling bermakna.
Lombok adalah pulau yang terlalu kaya untuk dijelajahi dengan cara yang setengah-setengah. Jarak antar destinasinya tidak kecil, spot-spot terbaiknya tidak selalu ada di jalur utama, dan pengalaman terbaiknya sering datang dari keputusan spontan yang hanya bisa kamu buat kalau kamu yang pegang kendali.
Kalau kamu sedang merencanakan perjalanan ke Lombok, pertimbangkan untuk mulai dari sini: cek ketersediaan dan layanan sewa mobil Lombok, tentukan berapa hari kamu butuh kendaraan, dan bereskan itu sebelum kamu sibuk pilih hotel atau susun daftar destinasi.
Karena perjalanan yang paling berkesan di Lombok hampir selalu dimulai dari keputusan sederhana yang dibuat sebelum berangkat.


Komentar