SUMBA TIMUR — Klinik Sumba Medika bersama tiga komunitas di Pulau Sumba, yakni Sumba Volunteer, Menyapa Sumba, dan Koalisi KOPI (Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim), menggelar kegiatan bertema “Jejak Wanggameti” pada 22–23 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Wanggameti, Sumba Timur, tersebut memadukan pelayanan kesehatan, edukasi masyarakat, pelestarian budaya, serta kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda Sumba Timur untuk terlibat langsung dalam kegiatan sosial dan konservasi.
Ada empat kegiatan utama yang dilaksanakan, yaitu pemeriksaan dan pengobatan gratis untuk kesehatan umum dan kesehatan gigi, edukasi kesehatan dan lingkungan, penelusuran kampung untuk mengenal dan melestarikan budaya Sumba Timur, serta penelusuran hutan yang dilanjutkan dengan penanaman pohon.
Libatkan Puluhan Relawan Muda
Beberapa hari sebelum kegiatan berlangsung, para komunitas penggagas terlebih dahulu membuka program “Calling for Volunteers” untuk mengajak kaum muda Sumba Timur berpartisipasi sebagai relawan.
Para peserta mendapatkan pelatihan dasar kerelawanan sebelum diterjunkan dalam berbagai kegiatan. Dari proses tersebut, terseleksi puluhan anak muda yang kemudian terlibat sebagai relawan kesehatan, tenaga edukasi masyarakat, relawan kebudayaan, serta relawan yang bergerak dalam penjagaan alam dan lingkungan hidup di Pulau Sumba.
Dalam pelayanan kesehatan, kegiatan ini melibatkan dokter umum, dokter gigi, apoteker, perawat, dan tenaga laboratorium.
Kesehatan, Budaya, dan Lingkungan Saling Berkaitan
Wanggameti merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti. Kawasan ini memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat di Sumba Timur karena berada di kawasan hulu sejumlah sungai besar yang mengalir dan menopang kehidupan masyarakat di wilayah lainnya.
Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut memiliki hubungan yang sangat dekat dengan hutan. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sekaligus menjadi penjaga terdepan kelestarian lingkungan Wanggameti.
Direktur Klinik Sumba Medika, dr. Stefanus Raditya Purba, BMedSc, MARS, MM, yang juga merupakan penggagas kegiatan, mengatakan bahwa kesehatan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan dan budaya tempat masyarakat hidup.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa menjaga kesehatan, melestarikan budaya, dan merawat alam merupakan hal yang saling terkait dan tidak terpisahkan dalam mewujudkan masyarakat yang sehat secara berkelanjutan,” ujar dr. Purba.
Menginap di Rumah Warga
Setelah menjalani rangkaian kegiatan pada hari pertama berupa pelayanan kesehatan dan penelusuran kampung, para tenaga kesehatan dan relawan menginap di rumah warga.
Kebersamaan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan kegiatan, tetapi juga menciptakan suasana keakraban dan kekeluargaan antara masyarakat setempat dengan para relawan.
Pada hari kedua, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan konservasi Taman Nasional Laiwangi Wanggameti. Para peserta menyusuri kawasan hutan sebelum melakukan aksi penanaman pohon sebagai bagian dari kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Apresiasi untuk Keterlibatan Generasi Muda
Kegiatan “Jejak Wanggameti” mendapat apresiasi dari PEH Muda pada TN Matalawa, Arifson RM. Sianturi, S.Hut. Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi semakin penting ketika kawasan alam menghadapi berbagai ancaman.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada tim Sumba Medika beserta berbagai komunitas pemuda yang berkunjung ke Wanggameti, yang merupakan wujud kepedulian generasi muda Sumba terhadap kelestarian lingkungannya yang saat ini mengalami berbagai ancaman,” kata Arifson.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Wanggameti, Elis L. Radjah. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.
“Kegiatan ini sangat bagus dan juga berdampak bagi masyarakat. Masyarakat berharap agar ke depan bisa dilakukan lagi,” tutur Elis.
Melalui “Jejak Wanggameti”, Klinik Sumba Medika bersama komunitas dan para relawan tidak hanya menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga membawa pesan bahwa kesehatan manusia memiliki hubungan erat dengan kelestarian lingkungan dan keberlangsungan budaya.
Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu kekuatan penting untuk membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan, budaya, dan alam merupakan tanggung jawab bersama.


Komentar