Thecliniciid – Perkembangan dunia estetika membuat masyarakat semakin mudah menemukan berbagai pilihan prosedur untuk menunjang penampilan. Mulai dari perawatan sederhana hingga tindakan bedah plastik, informasi mengenai prosedur tersebut kini banyak beredar di media sosial.
Video before-after, pengalaman pasien, hingga promosi berbagai tindakan juga semakin mudah ditemui. Kondisi ini membuat keputusan untuk menjalani prosedur estetika terkadang dapat diambil dalam waktu relatif singkat.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ada hal penting yang sebaiknya tidak dilewatkan, yakni memastikan prosedur dilakukan dengan standar keamanan yang tepat.
Dokter spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik, dr. Danu Mahandaru, Sp.BP-RE, FICS, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan tampilan hasil akhir sebagai satu-satunya pertimbangan ketika memilih prosedur estetika.
“Makin banyak orang yang ingin melakukan tindakan estetika, dan itu wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika keputusan diambil berdasarkan apa yang terlihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi di balik tindakan itu,” ujar dr. Danu.
Menurutnya, tindakan estetika pada dasarnya merupakan bagian dari pelayanan medis sehingga prosesnya perlu memperhatikan berbagai aspek, mulai dari kompetensi dokter, indikasi medis, kesiapan fasilitas, hingga prosedur sebelum dan sesudah tindakan.
Empat Standar yang Menjadi Dasar Keamanan
Dalam praktik kedokteran, keamanan suatu prosedur tidak bergantung pada satu faktor saja. Ada sejumlah lapisan yang perlu diperhatikan secara bersamaan agar pasien mendapatkan pelayanan sesuai standar.
Danu menyebut setidaknya terdapat empat standar utama yang perlu menjadi perhatian pasien sebelum menjalani tindakan estetika.
Kompetensi Dokter Menjadi Hal Pertama yang Perlu Diperhatikan
Sebelum menjalani prosedur, pasien disarankan mengetahui kompetensi dokter yang akan menangani mereka. Hal ini menjadi penting terutama untuk tindakan yang memiliki tingkat kompleksitas dan risiko lebih tinggi.
Bedah plastik merupakan bidang spesialisasi yang membutuhkan pendidikan formal dan pelatihan yang panjang. Seorang dokter spesialis bedah plastik tidak hanya dituntut memahami teknik tindakan, tetapi juga anatomi tubuh, potensi risiko, hingga cara menangani komplikasi.
Untuk menyandang gelar Sp.BP-RE, seorang dokter menjalani perjalanan pendidikan yang panjang. Secara umum, pendidikan tersebut mencakup sekitar enam tahun pendidikan dokter umum dan dilanjutkan dengan lima tahun pendidikan spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik.
“ Tindakan estetika bukan soal keterampilan tangan semata. Yang membedakan adalah pemahaman anatomi, pengenalan risiko, dan kemampuan menangani komplikasi kalau terjadi. Itu tidak bisa dipelajari dari kursus singkat,” jelasnya.
Karena itu, pasien tidak cukup hanya melihat popularitas dokter atau hasil before-after di media sosial. Latar belakang pendidikan, pengalaman, serta pelatihan lanjutan yang pernah ditempuh juga dapat menjadi pertimbangan ketika memilih dokter.
Menurut dr. Danu, pasien justru perlu aktif mencari tahu mengenai kompetensi dokter yang akan melakukan tindakan.
“Dokter yang benar-benar kompeten tidak akan tersinggung ditanya soal itu. Justru itu tanda pasien yang cerdas,” ujarnya.
Tidak Semua Keinginan Pasien Harus Berujung Tindakan
Selain kompetensi dokter, aspek lain yang perlu dipahami adalah indikasi medis. Keinginan pasien untuk mendapatkan perubahan tertentu belum tentu selalu sesuai dengan kondisi anatomi maupun kesehatannya.
Konsultasi menjadi tahap penting untuk menentukan apakah prosedur yang diinginkan memang tepat atau justru terdapat pilihan lain yang lebih sesuai.
Dalam kondisi tertentu, konsultasi bahkan dapat berakhir dengan keputusan untuk tidak melakukan prosedur yang sejak awal diinginkan pasien.
“Kalau tidak ada indikasinya, tugas dokter justru mengatakan tidak, atau menawarkan pilihan lain yang lebih tepat. Tindakan tanpa indikasi yang jelas bukan pelayanan, itu risiko yang tidak perlu,” kata dr. Danu.
Dengan demikian, pasien sebaiknya tidak menganggap dokter yang menolak suatu prosedur sebagai tidak kooperatif. Sebaliknya, keputusan tersebut dapat menunjukkan bahwa dokter mempertimbangkan keamanan, kondisi anatomi, serta ekspektasi pasien sebelum melakukan tindakan.
“Tugas dokter bukan memenuhi permintaan, tapi menilai apakah permintaan itu aman dan realistis untuk kondisi anatomi pasien. Kalau tidak, dokter harus berani mengatakan tidak,” tuturnya.
Perhatikan Juga Fasilitas Tempat Tindakan
Standar keamanan tidak hanya berkaitan dengan dokter. Fasilitas tempat prosedur dilakukan juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Setiap tindakan memiliki tingkat risiko dan kebutuhan fasilitas yang berbeda. Prosedur bedah yang membutuhkan anestesi, misalnya, memerlukan sarana serta tenaga pendukung yang berbeda dengan prosedur minimal invasif.
Karena itu, pasien berhak mengetahui apakah fasilitas kesehatan yang dipilih memang memiliki izin dan kesiapan untuk melakukan tindakan yang direncanakan.
“Pasien berhak tahu apakah tempat ia ditangani memang berizin untuk tindakan yang akan dilakukan. Ini bukan formalitas, ini soal apa yang tersedia jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,” tutur dr. Danu.
Pasien juga dapat menanyakan siapa saja tenaga medis yang terlibat selama tindakan serta bagaimana fasilitas tersebut mempersiapkan penanganan apabila terjadi kondisi yang tidak sesuai dengan rencana.
Menurut dr. Danu, aspek tersebut sering kali tidak terlihat dalam konten promosi di media sosial. Padahal, kesiapan fasilitas merupakan bagian dari sistem keamanan yang tidak kalah penting.
Keamanan Dimulai dari Konsultasi hingga Kontrol
Standar berikutnya adalah prosedur medis yang jelas. Menurut dr. Danu, keamanan tindakan estetika sebenarnya tidak hanya ditentukan ketika pasien berada di ruang tindakan.
Proses tersebut dimulai sejak konsultasi pertama.
Pemeriksaan kondisi kesehatan, riwayat penyakit, obat yang sedang dikonsumsi, hingga faktor lain yang dapat memengaruhi proses tindakan dan penyembuhan perlu menjadi bagian dari pertimbangan dokter.
Pasien juga seharusnya mendapatkan penjelasan mengenai prosedur yang akan dilakukan, manfaat yang diharapkan, risiko yang mungkin terjadi, alternatif tindakan, hingga proses pemulihan sebelum memberikan persetujuan.
“Kalau tidak ada penjelasan risiko, sebenarnya belum ada persetujuan. Pasien hanya menandatangani kertas,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persetujuan tindakan bukan sekadar urusan administratif. Pasien perlu memahami informasi yang diberikan sebelum mengambil keputusan.
Setelah prosedur dilakukan, standar keamanan juga berlanjut melalui pemantauan dan kontrol. Jadwal kontrol serta jalur komunikasi apabila pasien mengalami keluhan perlu diketahui sejak awal.
“Yang membuat pasien aman bukan satu momen di kamar operasi, tapi rangkaian keputusan kecil dari konsultasi pertama sampai kontrol terakhir. Semua itu harus berdiri di atas ilmu, bukan tren,” tambah dr. Danu.
Dokter Juga Perlu Terus Belajar
Selain memastikan standar pada saat menangani pasien, dr. Danu menilai seorang dokter juga perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
Hal ini karena bidang bedah plastik dan estetika berkembang cukup cepat. Teknik yang digunakan dapat mengalami penyempurnaan, sementara perkembangan ilmu kedokteran terus memberikan pemahaman baru mengenai efektivitas maupun keamanan suatu prosedur.
Perjalanan profesional dr. Danu turut memperlihatkan bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung setelah pendidikan spesialis selesai.
Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis bedah plastik di Universitas Indonesia, ia memperdalam keilmuan melalui berbagai pelatihan internasional.
Ia pernah menjadi visiting scholar di divisi kraniofasial dan bedah mikro Chang Gung Memorial Hospital, Taiwan, salah satu pusat rujukan bedah plastik di Asia.
Dari Taiwan, pendalaman keilmuan kemudian berlanjut melalui pelatihan liposuction dan fat transfer di Berlin, Jerman. Ia juga menempuh fellowship di Korean College of Cosmetic Surgery, Seoul, Korea Selatan, serta mengikuti pelatihan robotic hair transplant di San Diego, Amerika Serikat.
Pengalaman tersebut membuat proses pembelajaran tidak hanya diperoleh dari satu lingkungan akademik atau satu pendekatan. Berbagai pengalaman di Asia, Eropa, hingga Amerika menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan dalam bidang bedah plastik dan estetika.
Menurut dr. Danu, pembelajaran berkelanjutan juga penting karena dokter perlu mampu memahami alasan ilmiah di balik setiap teknik yang digunakan.
“Mengajar itu memaksa dokter untuk selalu bisa menjelaskan alasan di balik setiap langkah. Kalau saya tidak bisa menjelaskan kenapa suatu teknik dipilih, saya tidak berhak melakukannya ke pasien,” katanya.
Tak hanya belajar, ia juga aktif membagikan pengetahuan kepada sesama dokter. Dalam beberapa tahun terakhir, dr. Danu dipercaya menjadi kepala instruktur dalam berbagai cadaver workshop injeksi estetika bagi para dokter di Indonesia.
Ia juga terlibat sebagai faculty dan pembicara dalam berbagai forum ilmiah, baik nasional maupun internasional. Sejumlah forum yang pernah diikuti antara lain IMCAS Asia Congress, AMWC atau Aesthetic and Anti-Aging Medicine World Congress, ARUNA, serta AMUSE atau Aesthetic Medicine Updates Seminar and Exhibition.
Aktivitas tersebut menjadi bagian dari proses berbagi pengetahuan sekaligus menjaga agar pembahasan mengenai tindakan estetika tetap berada dalam koridor keilmuan.
Tiga Pertanyaan yang Bisa Diajukan Pasien
Untuk membantu pasien mengambil keputusan dengan lebih matang, dr. Danu menyarankan setidaknya ada tiga pertanyaan yang dapat diajukan sebelum menjalani prosedur estetika.
Pertama, apa pendidikan spesialis dokter dan bagaimana cara memverifikasinya?
Pertanyaan ini dapat membantu pasien mengetahui apakah dokter memiliki latar belakang pendidikan dan kompetensi yang sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan.
Kedua, apa risiko tindakan tersebut dan bagaimana penanganannya apabila terjadi komplikasi?
Pasien sebaiknya tidak hanya bertanya mengenai hasil yang diharapkan. Risiko dan kemungkinan komplikasi juga merupakan bagian penting yang perlu dipahami sebelum memberikan persetujuan.
Ketiga, apakah fasilitas yang digunakan memang berizin untuk melakukan tindakan tersebut dan siapa tenaga medis yang mendampingi?
Pertanyaan ini membantu pasien memahami kesiapan tempat tindakan, termasuk dukungan tenaga medis dan fasilitas yang tersedia apabila terjadi kondisi yang tidak diharapkan.
Menurut dr. Danu, ketiga pertanyaan tersebut dapat menjadi langkah sederhana bagi masyarakat untuk lebih kritis ketika memilih prosedur maupun dokter.
“Dokter yang benar-benar kompeten tidak akan tersinggung ditanya soal itu. Justru itu tanda pasien yang cerdas,” ungkapnya.
Pada akhirnya, tidak ada prosedur medis yang dapat dijanjikan tanpa risiko. Karena itu, pasien juga perlu berhati-hati terhadap klaim yang terlalu mutlak mengenai hasil maupun keamanan suatu tindakan.
“Tiga pertanyaan ini tidak menjamin apa pun, karena dalam kedokteran tidak ada yang bisa dijamin. Tapi jawabannya akan menunjukkan apakah dokter di depan Anda bekerja dengan standar, atau sekadar mengikuti permintaan,” pungkasnya.
Di tengah derasnya informasi mengenai prosedur estetika di media sosial, keputusan untuk melakukan perubahan pada penampilan sebaiknya tidak dibuat hanya berdasarkan tren, harga, atau hasil before-after.
Memahami kompetensi dokter, memastikan adanya indikasi medis, memperhatikan kesiapan fasilitas, serta mengetahui proses sebelum dan sesudah tindakan dapat membantu pasien mengambil keputusan secara lebih terinformasi.
Sebab, hasil estetika mungkin menjadi hal pertama yang terlihat, tetapi standar keamanan merupakan bagian yang bekerja di baliknya. Dan bagi pasien, memahami hal tersebut sejak awal dapat menjadi langkah penting sebelum menentukan pilihan.


Komentar