Oleh: Rilo Fajar Fambudi – Universitas Siber Asia
Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui berbagai platform digital, masyarakat dapat memperoleh informasi, berkomunikasi, menyampaikan pendapat, hingga mengikuti berbagai peristiwa yang sedang menjadi perhatian publik. Hanya dalam hitungan menit, sebuah video, foto, komentar, atau berita dapat menyebar luas dan menjadi viral.
Namun, kecepatan tersebut juga membawa tantangan. Ketika suatu informasi menjadi viral, masyarakat sering kali memberikan respons secara spontan berdasarkan emosi. Rasa marah, kecewa, takut, atau bahkan rasa ingin ikut dalam sebuah tren dapat membuat seseorang memberikan komentar atau membagikan informasi tanpa terlebih dahulu memikirkan dampaknya. Dari sinilah berbagai persoalan seperti perundungan siber, perang komentar, penyebaran informasi yang belum terverifikasi, dan penghakiman terhadap seseorang dapat terjadi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Masyarakat juga membutuhkan kecerdasan emosional atau Emotional Intelligence (EI) agar dapat menggunakan media sosial secara lebih bijaksana dan manusiawi.
Mengapa Kecerdasan Emosional Penting?
Dalam materi Estetika Humanisme, kecerdasan emosional dijelaskan sebagai kemampuan untuk mengelola kehidupan emosional dengan kecerdasan. Daniel Goleman mengaitkannya dengan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial.
Kecerdasan emosional bukan berarti seseorang tidak boleh marah, sedih, kecewa, atau memiliki perasaan negatif. Emosi merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Materi perkuliahan menjelaskan bahwa emosi dapat berupa perasaan senang maupun tidak senang, seperti takut, marah, cinta, bahagia, sedih, cemas, iri, dan berbagai kondisi emosional lainnya.
Yang menjadi persoalan adalah bagaimana seseorang merespons emosi tersebut.
Di media sosial, misalnya, seseorang mungkin merasa marah setelah melihat sebuah video. Perasaan tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, ketika kemarahan langsung diwujudkan melalui komentar kasar, penghinaan, atau ajakan untuk menyerang seseorang, emosi tersebut sudah berubah menjadi tindakan yang dapat merugikan orang lain.
Karena itu, kemampuan mengendalikan emosi menjadi sangat penting.
Ketika Reaksi Lebih Cepat daripada Pikiran
Salah satu karakteristik media sosial adalah kecepatan. Pengguna dapat langsung memberikan tanda suka, komentar, membagikan unggahan, atau membuat konten tanggapan. Kecepatan ini memang memberikan kemudahan, tetapi juga dapat membuat seseorang bertindak tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Materi Estetika Humanisme menyebutkan bahwa salah satu ciri kecerdasan emosional yang rendah adalah bertindak mengikuti perasaan tanpa memikirkan akibatnya, mudah marah, agresif, tidak sabar, kurang peka terhadap perasaan diri sendiri maupun orang lain, serta sulit mengendalikan perasaan negatif.
Dalam kehidupan digital, kondisi tersebut dapat terlihat ketika seseorang ikut menghujat orang lain hanya karena melihat banyak komentar negatif. Bahkan, terkadang seseorang memberikan penilaian hanya berdasarkan potongan video atau informasi yang belum tentu menggambarkan keseluruhan kejadian.
Di sinilah kita perlu belajar untuk tidak selalu menjadi orang yang paling cepat memberikan respons. Terkadang, menunggu, membaca informasi secara lengkap, dan berpikir sebelum berkomentar justru merupakan bentuk kecerdasan emosional.
Cyberbullying dan Hilangnya Empati
Perundungan siber atau cyberbullying menjadi salah satu persoalan yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan media sosial. Seseorang dapat menjadi sasaran ejekan, penghinaan, ancaman, maupun komentar negatif secara terus-menerus.
Hal yang membuat persoalan ini semakin serius adalah adanya jarak antara pelaku dan korban. Ketika seseorang menulis komentar melalui layar, ia mungkin tidak melihat secara langsung ekspresi dan perasaan orang yang menjadi sasaran. Akibatnya, rasa empati dapat berkurang.
Padahal, empati merupakan salah satu bagian penting dari kecerdasan emosional. Materi perkuliahan menjelaskan bahwa kecerdasan emosional mencakup kemampuan memahami orang lain secara emosional, peduli, dan tulus dalam interaksi sosial. Selain itu, keterampilan sosial diperlukan untuk berkomunikasi dan membangun hubungan dengan orang lain.
Sebelum menulis komentar yang menyakitkan, seseorang sebenarnya dapat melakukan refleksi sederhana: “Bagaimana jika kata-kata tersebut ditujukan kepada saya?”
Pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang melihat persoalan dari sudut pandang orang lain.
Fenomena Penghakiman di Ruang Digital
Ketika sebuah kasus menjadi viral, sering kali muncul kecenderungan masyarakat untuk memberikan penghakiman secara cepat. Media sosial kemudian berubah menjadi ruang perdebatan yang dipenuhi berbagai pendapat.
Kritik terhadap suatu tindakan tentu bukan sesuatu yang salah. Masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat. Namun, kritik perlu dibedakan dari penghinaan atau serangan terhadap pribadi.
Kecerdasan emosional membantu seseorang untuk mengenali perasaannya sebelum mengambil tindakan. John Mayer dan Peter Salovey menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan emosional terampil dalam empat bidang, yaitu mengidentifikasi emosi, menggunakan emosi, memahami emosi, dan mengatur emosi.
Jika seseorang merasa marah setelah melihat sebuah berita, langkah pertama bukan langsung menyerang pihak yang dianggap salah. Ia dapat mengenali kemarahannya, memahami penyebabnya, mencari informasi yang lebih lengkap, kemudian menentukan respons yang tepat.
Dengan cara tersebut, emosi tidak dihilangkan, tetapi digunakan secara lebih konstruktif.
Viral Tidak Selalu Berarti Benar
Fenomena viral juga menimbulkan tantangan lain, yaitu kecenderungan sebagian masyarakat menganggap sesuatu benar hanya karena banyak orang membicarakannya.
Padahal, banyaknya penonton, komentar, atau jumlah unggahan ulang tidak secara otomatis membuktikan kebenaran suatu informasi. Sebuah informasi tetap perlu diperiksa sebelum dipercaya dan dibagikan.
Kecerdasan emosional dapat membantu seseorang mengendalikan dorongan untuk segera ikut dalam suatu tren. Materi perkuliahan menyebutkan bahwa pengendalian diri membuat seseorang mampu mengontrol emosi dan tindakan sehingga terhindar dari tindakan impulsif yang merugikan.
Oleh karena itu, sebelum membagikan konten yang sedang viral, pengguna media sosial dapat mempertimbangkan beberapa hal: apakah informasinya benar, apakah bermanfaat, apakah dapat merugikan orang lain, dan apakah kita membagikannya karena memang penting atau hanya karena terbawa suasana.
Menggunakan Media Sosial dengan Lebih Manusiawi
Media sosial sebenarnya tidak hanya memiliki dampak negatif. Platform digital juga dapat digunakan untuk menyebarkan informasi positif, membantu orang lain, membangun komunitas, menyampaikan aspirasi, dan memperluas hubungan sosial.
Karena itu, persoalannya bukan apakah masyarakat harus meninggalkan media sosial, melainkan bagaimana media sosial digunakan secara bertanggung jawab.
Materi Estetika Humanisme memberikan beberapa cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional, antara lain membaca situasi, mendengarkan dan menyimak lawan bicara, berkomunikasi, mencoba berempati, memilih prioritas, mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, serta bersikap rasional.
Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di ruang digital. Ketika terjadi perbedaan pendapat, misalnya, kita tidak harus langsung membalas dengan kemarahan. Kita dapat membaca kembali komentar, memahami maksud orang lain, dan memilih kata-kata yang tidak memperkeruh keadaan.
Dengan demikian, media sosial dapat menjadi tempat untuk membangun komunikasi, bukan sekadar tempat untuk melampiaskan emosi.
Emotional Intelligence sebagai Bagian dari Humanisme
Dalam perspektif Estetika Humanisme, manusia tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan berpikir atau kecerdasannya, tetapi juga berdasarkan bagaimana ia memperlakukan manusia lainnya.
Kecerdasan emosional memiliki hubungan yang kuat dengan nilai tersebut. Seseorang yang mampu memahami emosinya akan lebih mudah memahami emosi orang lain. Seseorang yang mampu mengendalikan kemarahan akan lebih mungkin menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Sebaliknya, seseorang yang tidak mampu mengendalikan emosi dapat dengan mudah melakukan tindakan impulsif yang merugikan dirinya maupun orang lain.
Materi perkuliahan menjelaskan bahwa kecerdasan emosional yang tinggi ditandai dengan kemampuan mengendalikan kemarahan, berpikir sebelum bertindak, memiliki empati, mengendalikan perasaan negatif, berkomunikasi dengan baik, serta menyelesaikan konflik secara damai.
Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan kehidupan masyarakat di era digital.
Sebelum Menekan Tombol “Kirim”
Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah sarana. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Teknologi dapat mempercepat penyebaran informasi, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas apa yang disebarkan dan bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Sebelum memberikan komentar, kita dapat berhenti sejenak. Sebelum membagikan informasi, kita dapat memeriksa kebenarannya. Sebelum ikut menghujat seseorang, kita dapat mencoba memahami situasinya. Dan sebelum menjadikan seseorang sebagai bahan perbincangan, kita perlu mengingat bahwa di balik sebuah akun terdapat manusia yang memiliki perasaan.
Kecerdasan emosional bukan berarti kita harus selalu tenang dan tidak boleh memiliki emosi. Kecerdasan emosional berarti mampu mengenali, memahami, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat.
Di tengah dunia digital yang membuat hampir semua hal dapat menjadi viral, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Sebab, menjadi pengguna media sosial yang cerdas bukan hanya tentang mengetahui cara menggunakan teknologi, tetapi juga tentang kemampuan menjaga empati, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas setiap kata yang kita sampaikan.
“Emosi boleh ada, tetapi kendali tetap ada di tangan kita”
Sumber :
- Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Pertemuan Ke-5 – Emotional Intelligence.
- Goleman, Daniel. (2000). Emotional Intelligence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
- Agustian, Ary Ginanjar. (2007). Emotional Spiritual Quotient: The ESQ Way 165. Jakarta: Arga Publishing.
- Hurlock, E. B. (2004). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.


Komentar