INDONESIA VOX, BOGOR – Bagi sebagian orang, persoalan keuangan sering kali dipandang hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan atau peluang usaha yang dimiliki. Namun, Suhendi Iskandar menilai kondisi finansial juga dipengaruhi oleh cara pandang seseorang terhadap uang, pengalaman masa lalu, hingga kebiasaan dalam mengambil keputusan ekonomi.
Atas dasar pemikiran tersebut, Suhendi Iskandar menghadirkan platform edukasi bernama Mantra Uang yang berada dalam ekosistem Akademi Mantra Digital. Program ini dikembangkan dengan pendekatan Subconscious Mindset First, yaitu pembenahan pola pikir dan alam bawah sadar sebagai fondasi dalam memperbaiki kondisi keuangan maupun mengembangkan usaha.
Melalui konsep yang disebut blueprint sadar kaya, Mantra Uang mengajak masyarakat untuk memahami kembali hubungan antara pola pikir, kebiasaan finansial, serta kemampuan menyusun perencanaan ekonomi jangka panjang. Program ini juga mendorong peserta mengevaluasi pengalaman finansial yang pernah dialami agar dapat menjadi pelajaran dalam mengambil keputusan ke depan.
Pengusaha yang akrab disapa Haji Suhendi, menuturkan bahwa perbaikan kondisi ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan strategi teknis. Menurutnya, aspek mental dan cara berpikir juga memiliki peran penting dalam menentukan arah kehidupan finansial seseorang.
“Melalui platform Mantra Uang, kami menawarkan keunggulan dalam membongkar pola pikir lama yang menghambat keberhasilan,” ujar Haji Suhendi.
Dalam proses pembelajaran, Mantra Uang membahas berbagai materi terkait mindset, energi, vibrasi, frekuensi, dan konsep sadar kaya. Pendekatan tersebut juga mengajak peserta untuk menelaah kembali pengalaman masa lalu, termasuk trauma keuangan maupun kegagalan yang dinilai masih memengaruhi keputusan finansial saat ini.
Menurut Haji Suhendi, pengalaman yang kurang menyenangkan dalam urusan keuangan seharusnya tidak menjadi beban berkepanjangan. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi untuk menyusun masa depan yang lebih terencana.
“Utang di masa lalu adalah pelajaran, dan fokus utama saat ini adalah merancang masa depan keuangan yang solid tanpa utang,” terang pengusaha yang kerap dijuluki The Legend Leader itu.
Ia menambahkan bahwa perubahan finansial membutuhkan proses yang tidak instan. Karena itu, peserta didorong untuk menjalani pembelajaran secara konsisten serta mengambil tanggung jawab atas berbagai keputusan yang dibuat dalam perjalanan memperbaiki kondisi ekonomi mereka.
“Pendekatan ini sekaligus menempatkan peserta sebagai pihak yang memegang kendali atas keputusan hidupnya. Mentor dapat memberikan materi, arahan, dan pendampingan, tetapi hasil akhirnya tidak dapat dilepaskan dari tindakan nyata serta kondisi masing-masing individu,” papar Haji Suhendi.


Komentar