JAKARTA — Tindakan estetika kini terasa sedekat satu unggahan di media sosial. Video prosedur, konten “sebelum-sesudah”, dan promosi paket tindakan membuat keputusan yang dulu dipikirkan berbulan-bulan kini bisa diambil dalam hitungan hari. Yang jarang ikut tampil di layar adalah pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang melakukan tindakan itu, di mana, dan dengan standar apa.
“Makin banyak orang yang ingin melakukan tindakan estetika, dan itu wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika keputusan diambil berdasarkan apa yang terlihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi di balik tindakan itu,” ujar dr. Danu Mahandaru, Sp.BP-RE, FICS, dokter spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik di Jakarta.
Menurutnya, pasien yang kecewa atau mengalami komplikasi umumnya bukan karena tindakan estetika itu sendiri berbahaya, melainkan karena tindakan dilakukan di luar standar: oleh tenaga yang tidak berkompeten, di fasilitas yang tidak berizin untuk tindakan tersebut, atau tanpa prosedur yang semestinya.
Empat standar yang seharusnya berlaku
Dalam kedokteran, kata dr. Danu, keamanan tidak bergantung pada satu hal saja. Ia menyebut empat lapis standar yang semestinya terpenuhi sebelum tindakan estetika apa pun dilakukan.
Pertama, kompetensi dokter. Bedah plastik adalah spesialisasi dengan pendidikan formal yang panjang. Untuk menyandang gelar Sp.BP-RE, seorang dokter menempuh pendidikan dan praktik sedikitnya 11 tahun: enam tahun pendidikan dokter umum, lalu lima tahun pendidikan dokter spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik. “Tindakan estetika bukan soal keterampilan tangan semata. Yang membedakan adalah pemahaman anatomi, pengenalan risiko, dan kemampuan menangani komplikasi kalau terjadi. Itu tidak bisa dipelajari dari kursus singkat,” ujarnya.
Kedua, indikasi medis. Tindakan yang benar berangkat dari penilaian medis, bukan sekadar permintaan pasien. Dokter menilai dulu apakah kondisi anatomi dan kesehatan pasien memang sesuai untuk tindakan yang diminta. “Kalau tidak ada indikasinya, tugas dokter justru mengatakan tidak, atau menawarkan pilihan lain yang lebih tepat. Tindakan tanpa indikasi yang jelas bukan pelayanan, itu risiko yang tidak perlu,” kata dr. Danu.
Ketiga, izin fasilitas. Setiap tindakan memiliki tingkat risiko yang berbeda, dan fasilitas kesehatan diklasifikasikan sesuai tindakan apa yang boleh dilakukan di sana. Tindakan bedah yang membutuhkan anestesi, misalnya, memerlukan sarana dan tenaga pendukung yang berbeda dengan tindakan minimal invasif. “Pasien berhak tahu apakah tempat ia ditangani memang berizin untuk tindakan yang akan dilakukan. Ini bukan formalitas, ini soal apa yang tersedia jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.”
Keempat, prosedur resmi. Ini mencakup pemeriksaan awal, penjelasan risiko dan alternatif, persetujuan tindakan yang ditandatangani setelah pasien benar-benar memahami, serta rencana pemulihan dan kontrol. “Kalau tidak ada penjelasan risiko, sebenarnya belum ada persetujuan. Pasien hanya menandatangani kertas,” kata dr. Danu.
Seperti apa standar itu dijalankan sehari-hari
Dalam praktiknya, dr. Danu menjelaskan bahwa standar keamanan justru paling terlihat pada hal-hal yang terjadi sebelum tindakan, bukan saat tindakan.
Konsultasi awal, menurutnya, sering kali berakhir dengan keputusan untuk tidak melakukan tindakan, atau melakukan tindakan yang berbeda dari yang diminta pasien. “Tugas dokter bukan memenuhi permintaan, tapi menilai apakah permintaan itu aman dan realistis untuk kondisi anatomi pasien. Kalau tidak, dokter harus berani mengatakan tidak.”
Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebelum tindakan bedah, termasuk riwayat penyakit, obat yang sedang dikonsumsi, dan kondisi yang bisa memengaruhi penyembuhan. Setelah tindakan, jadwal kontrol dan jalur komunikasi jika terjadi keluhan harus jelas sejak awal.
“Yang membuat pasien aman bukan satu momen di kamar operasi, tapi rangkaian keputusan kecil dari konsultasi pertama sampai kontrol terakhir. Semua itu harus berdiri di atas ilmu, bukan tren,” ujarnya.
Kenapa dokter harus terus belajar
Bedah plastik, kata dr. Danu, adalah bidang yang terus berkembang. Teknik yang dianggap standar sepuluh tahun lalu bisa saja sudah diperbarui, dan temuan dari forum ilmiah internasional terus mengoreksi apa yang sebelumnya dianggap benar.
Perjalanan dr. Danu sendiri menggambarkan proses yang panjang itu. Setelah menyelesaikan pendidikan bedah plastik di universitas Indonesia. Ia memulai pendalaman keilmuannya di luar negeri sebagai visiting scholar di divisi kraniofasial dan bedah mikro Chang Gung Memorial Hospital, Taiwan, salah satu pusat rujukan bedah plastik di Asia. Dari sana ia melanjutkan pelatihan tentang liposuction dan fat transfer di Berlin, Jerman, lalu menempuh fellowship di Korean College of Cosmetic Surgery, Seoul, Korea Selatan, dan terakhir pelatihan tentang Robotic Hair Transplant di San Diego, Amerika Serikat. Hampir satu dekade ia habiskan untuk memperdalam bidang yang sama dari berbagai mazhab: Asia Timur, Eropa, hingga Amerika.
Pengalaman itu kini ia teruskan ke sesama dokter. Sejak beberapa tahun terakhir ia dipercaya menjadi kepala instruktur pada berbagai cadaver workshop injeksi estetika untuk para dokter di Indonesia, menjadi faculty dan pembicara pada forum ilmiah serta hadir sebagai pembicara di berbagai forum ilmiah internasional seperti IMCAS Asia Congress, AMWC (Aesthetic and Anti-Aging Medicine World Congress), ARUNA dan AMUSE (Aesthetic Medicine Updates Seminar and Exhibition).
“Mengajar itu memaksa dokter untuk selalu bisa menjelaskan alasan di balik setiap langkah. Kalau saya tidak bisa menjelaskan kenapa suatu teknik dipilih, saya tidak berhak melakukannya ke pasien,” katanya.
Menurutnya, pasien sebaiknya tidak ragu menanyakan latar belakang pendidikan dan pelatihan dokternya. “Dokter yang benar-benar kompeten tidak akan tersinggung ditanya soal itu. Justru itu tanda pasien yang cerdas.”
Tiga pertanyaan untuk memeriksa dokter Anda sendiri
Sebagai penutup, dr. Danu membagikan tiga pertanyaan sederhana yang bisa diajukan setiap pasien sebelum memutuskan tindakan estetika, kepada dokter mana pun.
“Tiga pertanyaan ini tidak menjamin apa pun, karena dalam kedokteran tidak ada yang bisa dijamin. Tapi jawabannya akan menunjukkan apakah dokter di depan Anda bekerja dengan standar, atau sekadar mengikuti permintaan,” pungkas dr. Danu.
T E N T A N G N A R A S U M B E R
Danu Mahandaru, Sp.BP-RE, FICS adalah dokter spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik yang berpraktik di Jakarta. Ia menyelesaikan pendidikan spesialis di Universitas Indonesia, lalu menempuh pelatihan lanjutan di Chang Gung Memorial Hospital (Taiwan), Berlin (Jerman), Seoul (Korea Selatan), dan San Diego (Amerika Serikat). Ia aktif mengajar sesama dokter, menjadi faculty pada forum ilmiah ARUNA Global 2026, dan hadir di forum internasional seperti IMCAS, AMWC, dan AMUSE (Aesthetic Medicine Updates Seminar and Exhibition). Informasi lebih lanjut: danumahandaru.com.


Komentar