Indonesia Vox, Jakarta – Bagi sebagian orang, mendaki gunung berarti menikmati pemandangan, mencapai puncak, atau sekadar melepas penat dari rutinitas. Namun, bagi sekelompok mahasiswa Universitas Terbuka Medan, perjalanan menuju Gunung Sibayak justru menjadi ruang untuk mengamati, meneliti, dan menemukan pengetahuan baru.
Dari setiap langkah di jalur pendakian Sibayak itu, lahir dua penelitian kecil yang menunjukkan bahwa kegiatan petualangan dan riset ibarat pena bertinta api, tidak mati selama manusia masih ada di bumi. Semangat tersebut diwujudkan melalui Arunanaya Nature Research 2026 dengan tema “Jelajah Ilmiah Gunung Sibayak-Adventure Through Knowledge”, sebuah program yang menggabungkan aktivitas eksplorasi dengan penelitian. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk nyata upaya membangun budaya riset mahasiswa melalui pengalaman belajar langsung di alam terbuka.
Program ini diselenggarakan oleh UKM Bidang Penelitian Arunanaya Universitas Terbuka Medan, sebuah unit kegiatan mahasiswa yang didirikan pada 1 Mei 2025 di Kota Medan. Arunanaya berfokus pada pengembangan budaya riset, pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi ilmiah sebagai wadah mahasiswa untuk berkarya, berkolaborasi, serta menghasilkan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat. Bagi Arunanaya, penelitian tidak selalu harus dimulai dari kelas penat yang kaku. Lingkungan sekitar pun dapat menjadi ruang belajar ketika berpadu dengan rasa ingin tahu dan semangat eksplorasi.
Bagi Imam Mukhti Sihombing, Leader Tim Arunanaya Nature Research 2026, kegiatan ini bukan sekadar mengajak mahasiswa mendaki gunung. Menurutnya, rasa ingin tahu merupakan fondasi utama dalam membangun budaya riset sekaligus membentuk karakter seorang pemimpin. “Banyak hal yang sebenarnya bisa dieksplorasi di sekitar kita. Hanya saja, perkembangan zaman kadang membuat rasa penasaran itu semakin berkurang. Karena itu, di UKM kami mahasiswa bebas berkegiatan apa saja selama positif, tetapi ada satu syarat yang selalu kami dorong, yaitu setiap kegiatan harus menghasilkan penelitian, meskipun dalam skala kecil,” ujarnya.
Menurut Imam, kebiasaan mengamati, mendokumentasikan, dan mempertanyakan berbagai fenomena di sekitar merupakan langkah sederhana yang dapat menumbuhkan budaya riset di kalangan mahasiswa. “Hampir semua pemimpin besar, baik di masa lalu maupun sekarang, adalah petualang yang hebat. Kalau tidak berpetualang, habislah kader pemimpin di masa depan,” katanya sambil tertawa.
Selama pelaksanaan kegiatan, setiap anggota tim memegang peran penting. Ahmad Siddiq Fairuzi Azmi Koordinator Logistik dan Peralatan sekaligus Penanggung Jawab penelitian jejak karbon. Annisa Pratiwi sebagai Koordinator Dokumentasi dan Komunikasi sekaligus Penanggung Jawab penelitian flora dan fungi. Sementara itu, Rakha Pratama dan Syindi Nabila Silalahi memegang tanggung jawab sebagai asisten riset dan medis, yang membantu teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan agar lebih terstruktur dan terkordinir.
Penelitian pertama mengangkat tema eksplorasi flora dan fungi di jalur pendakian Gunung Sibayak menggunakan metode survei eksploratif. Tim berhasil mendokumentasikan 14 spesimen, terdiri atas 12 flora dan 2 fungi. Sebanyak 12 spesimen berhasil diidentifikasi hingga tingkat genus maupun spesies, sedangkan 2 spesimen lainnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut karena keterbatasan karakter morfologi yang terdokumentasi. Temuan tersebut diharapkan menjadi baseline data bagi pengembangan penelitian keanekaragaman hayati di Gunung Sibayak.
Sementara itu, penelitian kedua menginventarisasi berbagai aktivitas yang menghasilkan emisi karbon selama pendakian. Melalui pendekatan inventarisasi emisi berbasis aktivitas, penelitian ini mengestimasi total jejak karbon sebesar 78,287 kgCO₂e. Transportasi menjadi penyumbang emisi terbesar dengan 60,730 kgCO₂e atau 77,57% dari total emisi, diikuti logistik pangan dan minuman sebesar 14,215 kgCO₂e atau 18,16%, sedangkan kategori lainnya secara kumulatif menyumbang 4,27%. Hasil tersebut diharapkan dapat menjadi referensi awal dalam mendorong penerapan konsep low carbon hiking di kawasan pendakian.
Setelah kegiatan lapangan berakhir, proses penelitian tidak langsung selesai. Tim melanjutkan pengolahan, analisis, dan penyusunan hasil penelitian hingga akhir Juli 2026 yang kemudian menghasilkan dua publikasi ilmiah sebagai luaran program. Pelaksanaan kegiatan ini juga mendapat dukungan dari brand outdoor AllMountain dan Catering Mbak Rani sebagai sponsor, serta Yayasan Satu Jejak Indonesia sebagai kolaborator.
Arunanaya Nature Research 2026 membuktikan bahwa sebuah pendakian dapat menjadi lebih dari sekadar perjalanan menuju puncak. Di balik setiap langkah, terdapat kesempatan untuk mengamati, bertanya, dan memahami alam melalui pendekatan ilmiah. Ketika rasa ingin tahu dipadukan dengan semangat kolaborasi dan keberanian untuk mengeksplorasi, perjalanan tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga melahirkan pengetahuan yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Mungkin dari sinilah budaya riset tumbuh-berawal dari keberanian untuk melihat lebih dekat, bertanya lebih jauh, lalu mengubah pengalaman menjadi ilmu pengetahuan.


Komentar