Jurnalis : Ardan Levano
Trenggiling, atau yang dikenal dengan nama ilmiah Manis javanica, adalah hewan yang unik dan menarik. Dengan tubuhnya yang tertutup sisik keras dan kebiasaan hidupnya yang khas, trenggiling sering menjadi objek perhatian dalam berbagai mitos dan cerita rakyat. Namun, banyak dari mitos tersebut tidak memiliki dasar ilmiah dan hanya berupa percayaan turun-temurun. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa mitos tentang trenggiling yang sering dipercaya namun tidak benar, serta mengungkap fakta sebenarnya di balik mitos-mitos tersebut.
Trenggiling merupakan hewan yang hidup di hutan dan daerah perbukitan. Mereka dikenal sebagai pemakan semut dan belalang, serta memiliki kemampuan untuk melindungi diri dengan menyelipkan tubuhnya ke dalam tanah atau menggunakan sisiknya sebagai penghalang. Meskipun demikian, banyak orang masih percaya pada mitos yang berkaitan dengan keberadaan dan sifat trenggiling. Mitos-mitos ini sering kali muncul dari pengamatan yang kurang tepat atau informasi yang tidak akurat. Oleh karena itu, penting untuk memahami mana yang benar dan mana yang hanya mitos.
Artikel ini akan memberikan wawasan mendalam tentang beberapa mitos umum mengenai trenggiling. Kami akan menjelaskan latar belakang mitos tersebut, mengapa mereka muncul, dan bagaimana fakta sebenarnya bisa membantu kita memahami lebih baik tentang hewan ini. Dengan informasi yang akurat dan terpercaya, kita dapat menghindari kesalahpahaman dan memperkuat pemahaman kita tentang ekosistem alami dan keanekaragaman hayati Indonesia.
Mitos 1: Trenggiling Bisa Menyembuhkan Penyakit Kanker
Salah satu mitos yang paling sering dibicarakan adalah bahwa trenggiling memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit kanker. Mitos ini berasal dari kepercayaan masyarakat tertentu yang percaya bahwa bagian tubuh trenggiling, seperti kulit atau darahnya, memiliki kandungan obat yang efektif. Namun, hal ini sama sekali tidak benar.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh lembaga kesehatan dan lingkungan, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa trenggiling memiliki khasiat medis untuk menyembuhkan kanker. Bahkan, penjualan bagian tubuh trenggiling untuk tujuan pengobatan ilegal telah menyebabkan penurunan populasi hewan ini secara drastis. Organisasi seperti World Wildlife Fund (WWF) dan Konservasi Internasional (CI) telah memperingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi atau menggunakan bagian tubuh trenggiling untuk tujuan medis.
Selain itu, penggunaan trenggiling dalam pengobatan tradisional juga berisiko tinggi karena dapat menyebabkan kerusakan ekosistem. Trenggiling berperan penting dalam mengontrol populasi serangga, termasuk semut dan belalang, yang jika tidak dikendalikan dapat merusak tanaman pertanian. Dengan menghilangkan trenggiling dari ekosistem, keseimbangan alami dapat terganggu.
Mitos 2: Trenggiling Tidak Pernah Berjalan Mundur
Mitos lain yang sering disebutkan adalah bahwa trenggiling tidak pernah berjalan mundur. Mitos ini muncul dari pengamatan bahwa trenggiling cenderung melindungi diri dengan menggulingkan tubuhnya ke tanah atau berlari ke arah yang tidak jelas. Namun, apakah benar-benar trenggiling tidak pernah berjalan mundur?
Sebenarnya, trenggiling bisa berjalan mundur, tetapi tidak sering dilakukan. Hewan ini memiliki struktur tubuh yang memungkinkannya untuk bergerak mundur, meskipun gerakan tersebut tidak terlalu efisien dibandingkan dengan berjalan maju. Alasan utama mengapa trenggiling jarang berjalan mundur adalah karena kebiasaannya dalam melindungi diri. Ketika merasa terancam, trenggiling biasanya akan menggulingkan tubuhnya ke tanah atau berlari ke arah yang aman, bukan berjalan mundur.
Penelitian oleh ahli biologi hewan di Indonesia menunjukkan bahwa trenggiling memiliki otot yang cukup kuat untuk melakukan gerakan mundur, tetapi hal ini tidak digunakan secara rutin. Gerakan ini lebih sering dilakukan ketika trenggiling sedang mencari makanan atau menghindari ancaman yang sangat dekat. Dengan demikian, mitos bahwa trenggiling tidak pernah berjalan mundur adalah salah.
Mitos 3: Trenggiling Bisa Mengubah Bentuk Tubuhnya
Ada mitos yang menyatakan bahwa trenggiling bisa mengubah bentuk tubuhnya untuk menghindari bahaya. Mitos ini muncul dari kepercayaan bahwa trenggiling bisa menyembunyikan dirinya dalam tanah atau berubah menjadi bentuk lain untuk menghindari predator. Namun, apakah mitos ini benar?
Faktanya, trenggiling tidak memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk tubuhnya. Mereka hanya memiliki sisik keras yang melindungi tubuhnya dari serangan. Sisik ini juga membuat trenggiling sulit untuk dipegang atau diangkat, sehingga memberikan kesan bahwa hewan ini bisa “berubah” bentuknya. Namun, ini hanya ilusi visual.
Penelitian oleh para ilmuwan di Balai Penelitian Biologi Laut dan Darat menunjukkan bahwa sisik trenggiling terdiri dari keratin, sama seperti kuku manusia. Keratin ini memberikan perlindungan yang kuat, tetapi tidak memungkinkan trenggiling untuk mengubah bentuk tubuhnya. Jadi, mitos bahwa trenggiling bisa mengubah bentuk tubuhnya adalah salah.
Mitos 4: Trenggiling Sering Menyerang Manusia
Beberapa orang percaya bahwa trenggiling sering menyerang manusia, terutama ketika mereka merasa terancam. Mitos ini sering muncul dari pengalaman individu atau narasi yang disampaikan oleh orang lain. Namun, apakah benar-benar trenggiling sering menyerang manusia?
Sebenarnya, trenggiling adalah hewan yang tidak agresif dan cenderung menghindari konflik. Mereka hanya akan menyerang jika merasa sangat terancam atau dikejar. Saat menyerang, trenggiling akan menggunakan sisiknya untuk melindungi diri atau menggulingkan tubuhnya ke tanah. Serangan ini biasanya tidak menyebabkan cedera serius bagi manusia, tetapi bisa menyebabkan rasa sakit jika terkena sisik.
Para ahli konservasi menyarankan agar manusia tidak mengganggu trenggiling dan menjaga jarak jika melihat hewan ini di alam liar. Trenggiling tidak memiliki niat untuk menyerang, tetapi jika dianggap sebagai ancaman, mereka bisa bereaksi secara defensif. Dengan memahami perilaku trenggiling, kita dapat menghindari konflik dan menjaga keamanan diri sendiri.
Mitos 5: Trenggiling Hidup Di Seluruh Indonesia
Banyak orang percaya bahwa trenggiling dapat ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Mitos ini muncul dari fakta bahwa trenggiling memiliki habitat yang luas, tetapi apakah benar-benar bisa ditemukan di semua daerah?
Sebenarnya, trenggiling memiliki distribusi yang terbatas. Mereka lebih sering ditemukan di daerah hutan dataran rendah dan perbukitan, terutama di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun, di daerah-daerah dengan kondisi lingkungan yang tidak cocok, seperti daerah dataran tinggi atau daerah yang sudah tercemar, trenggiling jarang ditemukan.
Penelitian oleh Departemen Lingkungan Hidup Indonesia menunjukkan bahwa populasi trenggiling semakin menurun karena perburuan dan perubahan iklim. Oleh karena itu, penting untuk melestarikan habitat trenggiling dan menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan memahami distribusi dan kebutuhan habitat trenggiling, kita dapat berkontribusi dalam upaya konservasi.
Mitos 6: Trenggiling Bisa Menghasilkan Suara yang Menyeramkan
Ada mitos yang menyatakan bahwa trenggiling bisa menghasilkan suara yang menyeramkan, seperti suara teriakan atau desisan. Mitos ini muncul dari pengamatan bahwa trenggiling bisa bersuara saat merasa terancam. Namun, apakah benar-benar trenggiling bisa menghasilkan suara yang menyeramkan?
Sebenarnya, trenggiling memiliki kemampuan untuk mengeluarkan suara, tetapi suara tersebut tidak terlalu menyeramkan. Mereka bisa mengeluarkan suara seperti desisan atau geraman saat merasa terancam, tetapi suara ini tidak seteroris seperti yang digambarkan dalam mitos.
Ahli biologi hewan di Indonesia menjelaskan bahwa suara trenggiling biasanya berupa suara pendek dan tajam, yang digunakan untuk mengingatkan rekan-rekannya atau mengusir ancaman. Dengan demikian, mitos bahwa trenggiling bisa menghasilkan suara yang menyeramkan adalah salah.
Mitos 7: Trenggiling Bisa Menggunakan Sisiknya untuk Berburu
Mitos lain yang sering disebutkan adalah bahwa trenggiling bisa menggunakan sisiknya untuk berburu. Mitos ini muncul dari kepercayaan bahwa sisik trenggiling bisa digunakan sebagai senjata atau alat untuk menangkap mangsa. Namun, apakah benar-benar trenggiling bisa menggunakan sisiknya untuk berburu?
Faktanya, sisik trenggiling berfungsi sebagai alat pelindung, bukan alat berburu. Trenggiling tidak memiliki gigi tajam atau alat khusus untuk menangkap mangsa. Mereka bergantung pada lidah panjang dan lengket untuk menangkap semut dan belalang. Sisik hanya digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan predator.
Dengan demikian, mitos bahwa trenggiling bisa menggunakan sisiknya untuk berburu adalah salah. Sisik hanya berfungsi sebagai perlindungan, bukan alat berburu.
Kesimpulan
Trenggiling adalah hewan yang menarik dan penting dalam ekosistem alami Indonesia. Namun, banyak mitos yang sering dipercaya tentang hewan ini tidak memiliki dasar ilmiah. Dari mitos bahwa trenggiling bisa menyembuhkan kanker hingga mitos bahwa mereka bisa mengubah bentuk tubuh, semua mitos tersebut perlu dikaji dengan kritis.
Dengan memahami fakta sebenarnya, kita dapat menghindari kesalahpahaman dan menjaga kelestarian trenggiling. Penting untuk menghargai keberadaan hewan ini dan berkontribusi dalam upaya konservasi. Dengan informasi yang akurat dan terpercaya, kita dapat melindungi trenggiling dan menjaga keseimbangan ekosistem alami Indonesia.


Komentar