Nasional
Beranda » Blog » Independensi Politisi dan Negara yang Hadir Sepenuhnya

Independensi Politisi dan Negara yang Hadir Sepenuhnya

WhatsApp Image 2026-02-03 at 10.07.44

Editor : Eleena Najma

Penulis : Raka Satya

Indonesia Vox, Jakarta – Di tengah kelelahan publik terhadap janji, satu kata terus muncul dalam banyak percakapan warga: mandiri.

Mandiri dari kepentingan sempit.

Mandiri dari tekanan sponsor politik.

Mandiri dari kebijakan yang berubah setiap kali kekuasaan berganti.

Dugaan Skandal Kepabeanan, Ratusan Massa Desak KPK Tangkap Kakanwil Bea Cukai Jakarta

Saat kami kembali berbincang dengan Nakaura Minsoo, atau yang akrab dipanggil Mas Min, pertanyaan pertama kami sederhana:

Masih mungkinkah politisi benar-benar independen hari ini?

Mas Min tidak langsung menjawab. Ia menarik napas sebentar, lalu berkata pelan:

“Independen itu bukan berarti sendirian.

Independen itu artinya keputusan tidak disandera.”

Dari Keresahan Rakyat ke Harapan Baru, Arus Politik Indonesia – Mengenal Sosok Sederhana di balik “Nakaura Minsoo”

Ketika Kebijakan Terlalu Sering Disandera

Menurut Mas Min, banyak kebijakan publik hari ini tidak gagal karena konsepnya buruk, melainkan karena lahir dari kompromi yang terlalu jauh dari kepentingan rakyat.

“Begitu kebijakan dibuat untuk menyenangkan terlalu banyak kepentingan,” katanya,

“yang dikorbankan biasanya rakyat paling bawah.”

Ia menyinggung program-program besar yang kerap jadi perdebatan publik—termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukan untuk menolak, juga bukan membela secara membabi buta.

IMM DKI Jakarta Angkat Isu Pilkada Tidak Langsung, Pakar dan Politisi Bahas Masa Depan Demokrasi Daerah

“Pertanyaannya bukan setuju atau tidak,” ujarnya.

“Pertanyaannya: dijalankan dengan jujur atau tidak.”

MBG: Antara Niat Baik dan Eksekusi yang Manusiawi

Bagi Mas Min, MBG hanya akan berdampak jika diperlakukan sebagai program gizi, bukan proyek politik.

Ia menjelaskan dengan bahasa sederhana, tanpa nada menggurui:

“Kalau makanan datang tapi mutunya buruk,

kalau distribusinya tidak adil,

kalau dapurnya cuma jadi ladang proyek—

itu bukan menolong, itu menyamarkan masalah.”

Menurutnya, MBG harus berbasis data lokal: kondisi gizi wilayah, rantai pasok setempat, dan pengawasan yang bisa diakses publik. Bukan satu menu untuk semua daerah, bukan satu vendor untuk seluruh negeri.

“Anak-anak butuh nutrisi,” katanya singkat,

“bukan pencitraan.”

Pendidikan: Tidak Bisa Diselamatkan Tanpa Menyelamatkan Gurunya

Pembicaraan kemudian bergeser ke pendidikan. Nada suara Mas Min terasa lebih serius.

“Kita terlalu sering bicara kurikulum,” ucapnya,

“tapi jarang benar-benar menanyakan kabar gurunya.”

Baginya, pendidikan tidak akan pernah kuat jika guru hidup dalam kecemasan yang terus-menerus.

Status honorer yang tak kunjung jelas.

Beban administrasi yang menghabiskan energi mengajar.

Pelatihan yang jauh dari realitas kelas.

“Kalau guru sibuk bertahan hidup,” katanya,

“jangan heran kalau pendidikan cuma bertahan, bukan berkembang.”

Ia menegaskan bahwa kesejahteraan guru bukan tambahan, melainkan syarat dasar. Negara yang ingin mencerdaskan, harus lebih dulu adil kepada pendidiknya.

Kesehatan: Tenaga Medis Bukan Alat, Mereka Penopang Sistem

Saat topik kesehatan muncul, Mas Min sempat terdiam sejenak. Ia mengaku sering bertemu tenaga medis yang kelelahan—bukan hanya fisik, tapi juga mental.

“Kita tepuk tangan waktu krisis,” katanya,

“lalu lupa setelahnya.”

Jam kerja panjang. Tekanan emosional tinggi. Risiko besar. Namun perlindungan dan kesejahteraan sering tertinggal.

“Tenaga medis itu bukan sumber daya yang bisa diperas terus,” tegasnya.

“Mereka jantung operasi nasional.”

Ia menekankan pentingnya perlindungan kesehatan mental, sistem insentif yang adil, serta distribusi tenaga medis yang manusiawi—bukan sekadar menutup kekurangan angka di laporan.

Negara yang Sehat Butuh Jantung yang Sehat

Dalam pandangan Mas Min, guru dan tenaga medis adalah dua pilar yang paling sering dipuji saat krisis, tapi paling cepat dilupakan saat anggaran dibagi.

“Kalau jantungnya lelah,” katanya pelan,

“seluruh tubuh negara ikut lemah.”

Di sinilah, menurutnya, independensi politisi diuji. Tanpa keberanian berkata tidak pada kepentingan yang menyimpang, kebijakan akan terus bersifat tambal sulam.

“Politisi independen bukan yang paling keras,” ujarnya.

“Tapi yang paling konsisten menjaga arah.”

Rakyat hari ini tidak menunggu keajaiban.

Mereka menunggu kejelasan.

Menunggu kejujuran.

Menunggu kebijakan yang tidak berubah setiap musim politik.

Independensi bukan soal citra bersih.

Ia soal keberanian memilih rakyat, bahkan ketika itu tidak populer.

Dan seperti yang Mas Min sampaikan di akhir wawancara:

“Negara tidak perlu terlihat hebat.

Negara perlu terasa hadir.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan