Jurnalis : Ardan Levano
Lamongan, Jawa Timur | NCA Grup, Tidak ada kesuksesan yang lahir tanpa luka. Kalimat itu mungkin paling tepat menggambarkan perjalanan hidup Eky Haneko, CHRMP., pengusaha muda asal Lamongan yang kini memimpin NCA Grup — sebuah kelompok usaha yang menaungi empat entitas bisnis sekaligus.
Di balik deretan jabatan direktur yang ia sandang, tersimpan kisah pahit yang tidak banyak orang tahu. Kisah tentang seorang anak yang dipaksa dewasa jauh sebelum waktunya.
Ketika Segalanya Runtuh dalam Sekejap
Hidup Niko — sapaan akrab Eky Haneko di lingkungan terdekatnya — tidak selalu seperti sekarang. Ada masa di mana dunianya benar-benar runtuh, saat sang ayah berpulang dan membawa serta hampir seluruh tumpuan ekonomi keluarga. Kepergian sang papa bukan sekadar kehilangan sosok yang dicintai, melainkan juga awal dari badai panjang yang harus dihadapi keluarga mereka.
Harta yang selama ini menjadi fondasi kehidupan keluarga ikut pergi bersama kepergian ayahnya. Dalam satu momen, stabilitas yang selama ini dinikmati sirna. Tidak ada warisan yang bisa diandalkan. Tidak ada jaring pengaman yang tersisa. Yang ada hanya kenyataan pahit yang harus dihadapi dengan kepala tegak.
Di usia yang seharusnya masih bebas bermimpi tanpa beban, Niko justru harus belajar satu pelajaran hidup yang paling berat — bahwa tidak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri.
“Kehilangan papa adalah titik paling gelap dalam hidup saya. Tapi justru di titik paling gelap itulah saya menemukan seberapa kuat saya sebenarnya.”
Tekad yang Lahir dari Keterpurukan
Bagi sebagian orang, kondisi seperti itu cukup untuk menyerah. Tapi bagi Niko, kejatuhan itu justru menjadi bahan bakar. Ia menolak untuk membiarkan kesulitan mendefinisikan hidupnya. Ia memilih untuk bangkit — bukan dengan menunggu keajaiban, melainkan dengan bergerak.
Yang membuat perjalanan Niko semakin luar biasa adalah kenyataan bahwa ia menjalani semua ini sambil tetap duduk di bangku kuliah. Saat ini Niko masih berstatus sebagai mahasiswa aktif S1 Biologi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya — salah satu perguruan tinggi teknik paling bergengsi di Indonesia. Kuliah, memimpin grup usaha, mengelola puluhan karyawan, dan menjalin kemitraan dengan lembaga negara — semua ia jalani dalam waktu yang bersamaan.
Ia paham satu hal yang banyak orang muda lupakan: bahwa krisis adalah momentum. Dan Niko memilih untuk tidak menyia-nyiakan momentumnya.
Membangun Dari Nol, Satu Entitas Demi Satu Entitas
Langkah pertama Niko adalah mendirikan CV Niko Cuan Abadi — sebuah perusahaan yang ia bangun benar-benar dari nol, tanpa modal warisan, tanpa koneksi korporat, hanya berbekal tekad dan keberanian untuk memulai. CV ini hadir sebagai penyedia fasilitas dapur satuan untuk mendukung program pelayanan pemenuhan gizi masyarakat.
Namun Niko tidak berhenti di sana. Visinya jauh lebih besar dari sekadar satu perusahaan.
Ia kemudian mendirikan dan memimpin Yayasan Niko Cahaya Abadi sebagai Ketua Umum, mengelola program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat yang membutuhkan. Di bawah kepemimpinannya, yayasan ini tumbuh menjadi organisasi dengan 47 orang — 42 karyawan operasional dan 5 staf inti — yang bekerja dengan dedikasi penuh setiap harinya.
Ekspansi terus berlanjut. UD. Wien Jaya Abadi hadir sebagai entitas usaha dagang yang memperkuat ekosistem bisnis NCA Grup. Lalu PT Niko Cipta Abadi berdiri sebagai mahkota dari perjalanan panjang yang ia tempuh — sebuah bukti bahwa mimpi yang dibangun di atas reruntuhan pun bisa tumbuh menjadi kenyataan yang kokoh.
Keempat entitas ini kini bernaung di bawah satu atap: NCA Grup, yang Niko pimpin sebagai Founder & Group Director.
Pahit Getir yang Menjadi Bekal
Mereka yang mengenal Niko dari dekat sepakat pada satu hal — ia dewasa jauh melampaui usianya. Bukan karena ia tidak pernah tertawa atau bersantai seperti anak muda pada umumnya. Tapi karena ia telah melewati sesuatu yang membentuk cara pandangnya terhadap hidup secara fundamental.
Kehilangan ayah di usia yang belum matang, menyaksikan ekonomi keluarga runtuh, berjuang sendirian sambil tetap menyelesaikan kuliah di ITS — semua itu bukan sekadar cerita inspirasi. Itu adalah proses pembentukan karakter yang sesungguhnya.
“Karena hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.”
Melangkah Lebih Jauh
Di usianya yang masih muda dan masih aktif sebagai mahasiswa, Niko tidak berencana untuk berhenti. Dengan bekal sertifikasi CHRMP (Certified Human Resource Management Professional), ia terus mengasah diri — tidak hanya sebagai pengusaha, tetapi sebagai pemimpin yang utuh.
Ke depan, Niko memiliki visi yang lebih ambisius: membawa NCA Grup ke level yang lebih tinggi, berkontribusi pada lebih banyak program nasional, dan membuktikan bahwa Lamongan mampu melahirkan pemimpin bisnis kelas nasional.
Perjalanan Eky Haneko adalah pengingat bahwa kejatuhan bukan akhir dari cerita. Kadang, ia justru adalah awal dari bab yang paling luar biasa.


Komentar