Editor : Eleena Najma
Penulis : Raka Satya
Indonesia Vox, Jakarta – Bukan karena rakyat malas berusaha, tapi karena terlalu lama dipaksa bertahan dalam sistem yang terasa dingin dan jauh.
Harga kebutuhan pokok terus naik. Pekerjaan makin sulit dicari. Dan janji politik—bagi banyak orang—sudah terdengar seperti rekaman lama yang diputar berulang tanpa pernah benar-benar ditepati.
“Kami capek berharap,” ujar seorang warga yang kami temui di sela wawancara. “Bukan marah, tapi capek.”
Data Badan Pusat Statistik memang menunjukkan inflasi pangan masih menjadi beban utama rumah tangga kelas menengah ke bawah. Media nasional berulang kali menulis hal yang sama: biaya hidup menekan, lapangan kerja menyempit, dan kepercayaan pada elite politik kian menipis.
Di tengah suasana seperti itulah kami bertemu Aminin Solihin—atau Nakaura Minsoo—sosok yang belum banyak dikenal publik nasional, tapi membawa cerita yang terasa dekat dengan realitas banyak keluarga Indonesia.
“Rakyat Itu Tidak Menuntut Mewah”
Kami menemuinya dalam suasana sederhana. Tidak ada panggung, tidak ada jargon besar. Ketika ditanya soal tuntutan rakyat hari ini, jawabannya singkat, nyaris datar, tapi menancap.
“Rakyat itu tidak menuntut hidup mewah,” katanya pelan.
“Mereka cuma ingin hidup tanpa rasa takut pada hari esok.”
Tak ada nada dramatis. Justru itu yang membuatnya terasa jujur.
Luka yang Tidak Disembunyikan
Aminin tidak memulai ceritanya dari prestasi. Ia justru memulai dari hal yang selama ini sering disembunyikan banyak orang: keluarga.
Ia tumbuh dari latar belakang broken home. Dan dari sana, ia belajar satu hal yang terus ia ulang selama wawancara:
“Luka yang tidak dipahami, biasanya akan diwariskan.”
Alih-alih larut dalam kondisi, ia memilih pendidikan sebagai jalan keluar. Jalannya membawanya jauh—ke Jepang. Ia menempuh studi Psikologi, lalu melanjutkan MBA. Namun ketika ditanya apa pelajaran terbesarnya, jawabannya tidak menyebut gelar.
“Yang paling membentuk saya itu bukan ijazah,” ujarnya.
“Tapi rasanya jadi orang asing. Melihat bagaimana sistem yang rapi bisa membuat warganya merasa aman.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan:
“Di situ saya sadar, negara seharusnya hadir sebelum warganya jatuh terlalu jauh.”
Politik dari Sudut yang Jarang Dibahas
Latar belakang psikologi membuat cara pandangnya berbeda. Bagi Aminin, banyak kebijakan gagal bukan karena niat buruk, tapi karena gagal memahami kondisi batin masyarakat.
“Kalau rakyat cemas, mereka butuh kepastian.
Kalau rakyat lelah, mereka butuh kejujuran.”
Ia mencontohkan hal-hal sederhana yang sering luput diperhitungkan.
Kenaikan pajak tanpa penjelasan yang manusiawi, menurutnya, tidak hanya memicu amarah—tapi rasa dikhianati.
Lapangan kerja yang sempit tidak hanya menciptakan pengangguran—tapi perasaan tidak berguna.
“Kemiskinan itu bukan cuma soal dompet,” katanya.
“Tapi soal harga diri yang pelan-pelan terkikis.”
Baginya, politik bukan semata soal menang atau kalah. Politik adalah relasi. Dan relasi yang rusak, tidak bisa disembuhkan dengan baliho.
Pendekatan yang Tidak Berisik
Saat ditanya soal solusi, Aminin tidak menawarkan janji besar. Tidak ada kata “revolusi” atau “perubahan total”.
Yang ia sampaikan justru hal-hal yang terdengar sederhana—bahkan sepi.
Ia bicara soal kebijakan berbasis empati dan data, bukan asumsi elite.
Soal komunikasi publik yang jujur dan dewasa, bukan kata manis.
Soal pendidikan dan ketahanan mental sebagai fondasi kebijakan, karena bangsa yang kuat bukan bangsa yang terus hidup dalam ketakutan.
Dan soal transparansi yang dijalankan sebagai budaya, bukan slogan.
“Kepercayaan itu tidak dibangun dari baliho,” katanya.
“Tapi dari konsistensi.”
Bukan Pencitraan, Tapi Pengalaman
Di tengah kejenuhan publik terhadap wajah-wajah lama politik, narasi seperti ini terasa berbeda. Bukan karena terdengar sempurna, tapi karena justru mengakui ketidaksempurnaan.
Aminin tidak menampilkan diri sebagai sosok paling benar. Ia malah berkata sebaliknya.
“Aku tidak ingin jadi pemimpin yang selalu benar,” ujarnya.
“Aku ingin jadi pemimpin yang mau belajar—bersama rakyatnya.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi di tengah iklim politik yang sering penuh kepastian palsu, kesediaan untuk belajar justru terasa langka.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Yang sering kurang adalah pemimpin yang mau mendengar sebelum bicara.
Dan mungkin, harapan itu justru datang dari mereka yang pernah merasakan kehilangan, ketidakpastian, dan sunyi—namun memilih kembali, bukan untuk berteriak, tapi untuk memperbaiki.


Komentar