Editor : Eleena Najma
Indonesia Vox, Mojokerto – Di tengah arus globalisasi, kemajuan teknologi, serta semakin mudahnya akses terhadap informasi, anak-anak dan remaja kini tumbuh dalam lingkungan yang penuh peluang sekaligus risiko. Dua tantangan besar yang kian nyata adalah meningkatnya ancaman penyalahgunaan narkoba dan menguatnya gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik di kalangan anak usia sekolah. Keduanya sama-sama berdampak serius terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial generasi muda.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan kegiatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) melalui program senam bersama dan sosialisasi edukasi bahaya narkoba kepada siswa-siswi SDN Selotapak. Program ini dirancang sebagai pendekatan sederhana namun strategis untuk menanamkan kesadaran hidup sehat sekaligus membangun benteng preventif sejak dini.
Senam bersama dipilih sebagai pintu masuk utama karena aktivitas fisik merupakan kebutuhan dasar anak yang sering terabaikan di tengah dominasi smartphone, game-game online, sosial media dan aktivitas pasif lainnya. Kegiatan ini kemudian dikemas secara menarik dan menyenagkan, sehingga anak-anak tidak merasa sedang “dipaksa berolahraga”.
Melalui gerakan sederhana, iringan musik ceria, dan suasana kebersamaan, senam menjadi ruang yang menyenangkan untuk bergerak, tertawa, dan berinteraksi. Dampaknya, anak-anak mulai memandang olahraga bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai aktivitas positif yang bisa dilakukan bersama teman-teman. Lebih dari sekadar menjaga kebugaran jasmani, senam bersama juga membangun suasana psikologis yang positif: anak merasa nyaman, terbuka, dan terlibat.
Dari sinilah kemudian edukasi tentang bahaya narkoba disisipkan. Dalam suasana yang cair dan akrab sembari lagu edukatif berjudul “Merokok jangan, MIRAS pun jangan, Apalagi sampai pakai narkoba”, anak-anak lebih siap menerima pesan, lebih berani bertanya, dan lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Urgensi edukasi ini tidak dapat diabaikan. Berdasarkan data Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, terdapat 150 kasus penyalahgunaan narkoba yang melibatkan anak. Selain itu, menurut pernyataan Masyhuri Imron selaku Ketua Tim Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat sebesar 2,11 persen dibandingkan tahun 2023.
Angka ini tentu mengkhawatirkan, terlebih Indonesia sedang bersiap memasuki puncak bonus demografi pada 2030–2045. Bonus demografi akan menjadi peluang besar jika didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang sehat dan berkarakter, namun bisa berubah menjadi beban sosial jika generasi mudanya rapuh dan rentan terhadap berbagai masalah.
Oleh karena itu, sosialisasi narkoba tidak disampaikan dengan pendekatan yang menggurui atau menakut-nakuti, melainkan secara interaktif dan komunikatif. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana, menggunakan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan anak, disertai kuis ringan dan hadiah kecil untuk meningkatkan partisipasi.

Pendekatan ini membuat anak tidak hanya “tahu” bahwa narkoba itu berbahaya, tetapi juga memahami mengapa harus menjauhinya dan bagaimana cara menolak jika suatu saat dihadapkan pada situasi berisiko. Pendekatan preventif seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah masalah terjadi. Dengan mengenalkan sejak dini apa itu narkoba, dampaknya bagi tubuh, masa depan, dan hubungan sosial, anak-anak dibekali kemampuan untuk mengenali, menolak, dan menghindari ancaman tersebut. Edukasi pada fase usia sekolah berperan sebagai fondasi nilai dan sikap yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Menurut Mochammad Firmansyah, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing Lapangan, sosialisasi bahaya narkoba sejak dini merupakan langkah preventif yang sangat penting dalam membentuk karakter anak. Edukasi yang dilakukan secara sederhana dan menyenangkan akan lebih mudah diterima oleh anak-anak serta mampu menanamkan nilai positif yang dapat menjadi benteng diri di kemudian hari.
Sinergi antara aktivitas fisik melalui senam sehat dan edukasi sosial tentang bahaya narkoba menciptakan pendekatan pembinaan siswa yang lebih utuh. Anak tidak hanya diajak bergerak dan berkeringat, tetapi juga diajak berpikir, memahami, dan membangun kesadaran diri.
Inilah bentuk pendidikan kesehatan yang kontekstual, kreatif, dan menyenangkan, tanpa kehilangan kedalaman pesan yang ingin disampaikan. Lebih jauh, kegiatan ini juga menunjukkan peran strategis mahasiswa KKN sebagai agen perubahan sosial. Kehadiran mahasiswa di desa bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan di kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Program sederhana seperti senam bersama dan sosialisasi narkoba dapat menjadi katalis bagi tumbuhnya budaya hidup sehat dan kesadaran preventif di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat desa. Pada akhirnya, upaya kecil ini adalah investasi jangka panjang. Dari halaman sekolah yang sederhana, benih-benih kesadaran ditanamkan: tentang pentingnya menjaga tubuh, menjaga diri, dan menjaga masa depan. Inilah fondasi bagi lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat, tangguh, dan berdaya menghadapi tantangan zaman.
Penulis : Stefania Kandida Sena Tiba, Ilmu Hukum, NIM. 1312300152
Artikel ini ditulis untuk memenuhi persyaratan Kuliah Kerja Nyata Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.


Komentar